Home

Minggu, 28 Oktober 2012

Olah Roh, Manunggaling Kawula Lan Gusti

8.  Olah Roh,  Manunggaling Kawula Lan Gusti.




Tulisan-tulisan yang terkait dengan hal-hal kegaiban, kebatinan dan spiritual tidak dimaksudkan untuk menyimpang dari ajaran agama apapun dan tidak perlu dipertentangkan dengan agama apapun, dan tidak ada maksud untuk mengedepankan atau membelakangkan agama tertentu, karena agama adalah bersifat pribadi bagi yang percaya dan mengimaninya. Tetapi di dalam bahasannya ditekankan aspek kebatinan / spiritual ketuhanan, bukan agama, dan terkandung pesan-pesan moral untuk menambah kebijaksanaan manusia dalam memahami agama dan untuk hidup berkeagamaan yang lebih baik dan untuk menambah kesadaran manusia akan perilaku berbudi pekerti dan berakhlak mulia.

Dalam memahami kegaiban, keilmuan gaib dan mahluk halus, kebatinan dan spiritual, ketuhanan dan keagamaan dan karya-karya luhur bangsa kita dibutuhkan kearifan dan netralitas yang tinggi, karena mengandung nilai kawruh yang sangat tinggi. Jika belum matang dalam beragama maka akan muncul sentimen agama dan keAkuan agama. Tiada maksud lain dari kami kecuali hanya ingin mengungkapkan fakta dan membedah warisan leluhur dengan pendekatan spiritual dan fakta sepanjang pengetahuan yang kami miliki.

Tulisan di dalam halaman ini yang berjudul Olah Roh, Manunggaling Kawula Lan Gusti, adalah tingkatan lebih lanjut dari kebatinan dan Spiritual. Di dalamnya diungkapkan tujuan tertinggi kebatinan dan spiritual yang umum dilakukan oleh orang-orang yang menjalaninya, yaitu  kebatinan dan spiritual keTuhanan

Segala sesuatu yang berhubungan dengan ketuhanan, selalu terkait erat dengan kepercayaan / keagamaan. Kami tidak bermaksud menonjolkan atau pun merendahkan, keagamaan atau agama tertentu, tetapi penekanan kami adalah pada aspek kebatinan dan spiritual ketuhanan itu sendiri, bukan agama. Mungkin tulisan ini terlalu tinggi bagi orang kebanyakan, dan mungkin lebih cocok untuk dibaca oleh orang-orang yang selama ini sudah menjalani laku kebatinan dan spiritual, yang dengan kearifan yang tinggi akan lebih bisa memahami isinya dan mungkin juga akan lebih bisa mengetahui sendiri kebenarannya.



-----------------




Olah Roh adalah tingkatan tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia. Tingkatan ini dijalani bukan lagi dengan olah fisik, olah batin atau spiritual, tetapi mengolah spiritual rohnya, termasuk mengolah penyatuan roh manusia dengan roh lain yang lebih tinggi. Penulis belum mengetahui contoh manusia biasa yang sudah pernah mencapai tahapan kondisi tertinggi ini selain beberapa Nabi Israel (tidak semuanya) dan murid-murid Yesus jaman dulu dan beberapa orang Kristen tertentu. Mereka tidak mempelajari ilmu ini, tetapi penyatuan roh mereka dengan Tuhan Penguasa Alam telah menyebabkan mereka seolah-olah telah menguasai ilmu ini.

Olah Roh tidak sama dengan olah sukma yang mengolah kemampuan sukma manusia di luar tubuh, tetapi tidak mengolah spiritual rohnya. Olah Roh juga tidak sama dengan olah kebatinan dan spiritual yang masih berputar-putar di sekitar alam pengetahuan duniawi. Tetapi olah kebatinan dan spiritual, bersama dengan rasa kebatinan dan spiritual, dapat menjadi dasar untuk olah Roh, untuk melakukan pencarian Roh.

Dalam tulisan ini Penulis ingin menekankan pembedaan antara  roh  (
dengan huruf kecil)  yang adalah roh manusia, dengan  Roh  (dengan huruf besar) yang adalah roh lain yang lebih besar daripada roh manusia atau penyatuan Roh itu dengan roh manusia.
Puncak dari berbagai ilmu kebatinan dan spiritual adalah pencapaian manusia atas pengetahuan  tentang  rahasia kehidupan dan hakekat kehidupan, yaitu kehidupannya sendiri, kehidupan di alam ini, kehidupan di alam nanti, adanya  kehidupan lain selain kehidupan manusia, asal-usul kehidupan, dan rahasia tentang Tuhan Sang Penguasa Kehidupan dan jalan untuk dapat mencapaiNya.

Puncak yang lain dari berbagai ilmu kebatinan dan spiritual adalah pencapaian manusia atas kekuatan / kesaktian, yang berasal dari kekuatan dirinya sendiri sesuai pencapaian keilmuannya.


Puncak dari  Ajaran Roh  adalah pencapaian manusia atas  pengetahuan  yang  benar  tentang Tuhan, keselarasan dirinya dengan Tuhan dan firman-firmanNya dan tinggal di dalam Tuhan dan kuasaNya, sehingga tercipta  kemanunggalan  yang  sempurna  antara dirinya dengan Tuhan Penguasa Alam, menjadi Kemanunggalan yang menghasilkan sesuatu yang lebih besar daripada sekedar kekuatan atau kesaktian, yaitu  Kuasa  untuk melakukan berbagai perbuatan besar, termasuk perbuatan-perbuatan yang disebut mukjizat dan mendatangkan tanda-tanda dari langit (Tuhan), perbuatan-perbuatan yang tidak dapat dilakukan bila hanya mengandalkan kekuatan manusia sendiri atau menyatu dengan roh-roh duniawi lain.

  Budaya Kebatinan dan Spiritual Ketuhanan

Di Jawa, pada jaman sebelum berkembangnya agama Islam, orang-orang Jawa hidup dengan kepercayaan kebatinan spiritual kejawen (kejawaan), yang sebagian juga mengadaptasi ajaran agama Hindu dan Budha. Mereka percaya akan keberadaan Roh Agung Alam Semesta (sekarang disebut Tuhan). Mereka menjalani suatu laku untuk menyelaraskan rasa kebatinan mereka dan hidup mereka dengan kearifan sifat-sifat Tuhan. Mereka juga menyelaraskan hidup mereka dengan keserasian alam (termasuk dengan roh-roh halus). Tujuan tertinggi penghayatan kepercayaan mereka adalah penyatuan dengan Tuhan, selain supaya hidup mereka di dunia diberkahi, juga supaya nanti sesudah kematian mereka dapat kembali menyatu dengan Tuhan. Ajaran-ajaran dalam kebatinan spiritual kejawen tersebut mengajarkan kepercayaan kepada Tuhan dan mengarah pada ajaran  Kemanunggalan  seperti tersebut di atas, misalnya ajaran Manunggaling Kawula Lan GustiSangkan Paraning Dumadi,  Sukma Sejati, dsb, yang mengajarkan kesejatian diri sebagai manusia dan penyembahan kepada Roh Agung Alam Semesta (Tuhan). Mereka yang sangat dalam menekuni penghayatan kebatinan kejawaan itu memiliki tingkat kekuatan sukma yang tinggi sekali, sehingga bila pada masa sekarang orang percaya / tidak percaya ketika mendengar istilah moksa, pada masa itu seorang tokoh kebatinan yang melakukan moksa adalah suatu hal yang biasa.

Dalam ajaran-ajaran kejawen tersebut manusia diajak mendekatkan diri kepada Tuhan, menyelaraskan sifat-sifat manusia dengan sifat-sifat Tuhan, bersandar dan menyelaraskan diri dengan kuasa Tuhan, dan diajak untuk melepaskan diri dari belenggu duniawi, melepaskan sifat-sifat tamak dan serakah pada kepemilikan duniawi yang dapat mengotori kesucian hati dan batin manusia. Ajaran ini didasarkan pada kepercayaan untuk kembali pada kemurnian jati diri dan sifat-sifat manusia yang sejati sesuai kehendak Tuhan pada saat penciptaan manusia.

Ajaran-ajaran kejawen menekankan penghayatan keyakinan bahwa dalam diri manusia sebenarnya sudah terkandung roh agung ciptaan Tuhan yang berbeda dengan roh-roh lain, hanya saja dalam kehidupan sehari-hari manusia terlalu larut dalam hidup keduniawian, sehingga menjauhkan roh manusia dari Roh Tuhan. Manusia lebih dekat dengan duniawinya, sehingga jauh dari penciptanya. Banyaknya pengkultusan di dalam kehidupan beragama justru semakin menjauhkan manusia dari Tuhan, menjadikan Tuhan semakin jauh untuk dijangkau, sehingga dianggap mustahil manusia dapat mengenal Tuhan secara langsung, dan mendorong manusia untuk mengedepankan agama dan ibadah formal, bukan ketuhanan.
Kebatinan Jawa pada dasarnya adalah pemahaman dan penghayatan kepercayaan manusia Jawa terhadap Tuhan, yang kemudian diajarkan turun-temurun menjadi tradisi dan warisan budaya leluhur sejak jaman kerajaan purba, jauh sebelum hadirnya agama Hindu-Budha dan Islam di pulau Jawa. Penghayatan keTuhanan itu bukanlah agama. Agama bisa apa saja, tetapi masyarakat Jawa mempunyai penghayatan sendiri tentang Tuhan. Agama Hindu dan Budha yang telah lebih dulu masuk ke Jawa telah diterima dengan baik oleh masyarakat Jawa dan mewarnai sikap kebatinan Jawa, karena memiliki banyak kesamaan dengan spiritualisme Jawa.
Kebatinan Jawa (Kejawen) pada dasarnya adalah sebuah kepercayaan ketuhanan, bukan agama, dan kepercayaan ketuhanan kejawen itu tidak membutuhkan kitab suci, karena pendekatan mereka kepada Tuhan dilakukan secara langsung dan pribadi, dengan rasa, dengan batin, tidak mendasarkan diri pada ajaran sebuah kitab suci. Dan pengertian umum Manunggaling Kawula Lan Gusti dalam konsep kejawen adalah hubungan manusia dengan Tuhannya secara langsung dan pribadi, melalui olah rasa dan batin manusia berusaha mengenal Tuhan dan menyatu secara langsung, tidak melalui nabi-nabi seperti halnya agama modern.
Dengan demikian terdapat perbedaan yang signifikan antara agama modern dengan ketuhanan kejawen. Penganut agama modern menggunakan ajaran-ajaran dalam kitab sucinya sebagai sumber pengetahuan mereka tentang Tuhan dan menjadi acuan peribadatan mereka. Semua keharusan dan larangan di dalam kitab suci harus dipatuhi, menjadi dasar peribadatan yang tidak boleh dilanggar. Pengenalan dan pengetahuan mereka tentang Tuhan umumnya hanyalah sebatas apa yang sudah tertulis dan diajarkan dalam kitab suci dan agama mereka saja, tidak lebih, dan tidak boleh menyimpang dari itu, yang kemudian banyak memunculkan dogma dan doktrin dan pengkultusan tentang Tuhan, tentang pahala dan dosa, surga dan neraka, sehingga menjadi umum bahwa kemudian mereka akan meninggikan agama, bahkan mempertuhankannya, lebih daripada mereka mempertuhankan Tuhan. Sedangkan penganut ketuhanan kejawen berusaha menyelaraskan kehidupan mereka sesuai penghayatan ketuhanan mereka masing-masing untuk mendapatkan jalan menuju Manunggaling Kawula Lan Gusti.


Para pelaku kejawen tersebut, yang sangat dalam menekuninya, menemukan suatu kekuatan yang mengalir di dalam tubuh mereka, yaitu kekuatan Sukma Sejati, roh agung yang diciptakan Tuhan dalam pribadi manusia, kekuatan yang sama sekali berbeda dengan kekuatan tenaga dalam kanuragan, tetapi kekuatan ini jauh lebih kuat daripada tenaga dalam. Kekuatan ini tidak dapat dipelajari dengan cara latihan fisik ataupun olah nafas. Kekuatan ini terbangkitkan ketika seseorang mesu raga, mengesampingkan kekuatan biologis dan hasrat keduniawian. Kekuatan ini berasal dari jiwanya yang paling dalam, dari jiwa yang menyembah Tuhan.

Orang-orang yang menekuni kebatinan, perhatian kebatinan mereka lebih ditujukan "ke dalam" (ke dalam batin sendiri), berupa penghayatan kebatinan yang juga menyentuh relung batin yang paling dalam, jiwanya, sukmanya, sehingga proses laku mereka "membangunkan" inner power, yaitu kekuatan dari batin, jiwa, sukma. Dan kekuatan kegaiban sukma pada diri mereka jelas berbeda dibandingkan orang-orang lain yang tidak menekuni kebatinan.

Ketika kekuatan itu menyatu dengan diri seseorang, maka kekuatan dari niat batin dan kehendaknya bisa menjadikan suatu kejadian gaib, tanpa perlu amalan gaib atau aji-aji.  Kegaiban seorang linuwih dan waskita. Dan semua perkataannya jadi !  Dan ketika kekuatan itu menyatu dengan kesaktian fisiknya, maka sulit sekali ada orang yang dapat menandinginya, karena kesaktiannya menjadi berlipat-lipat ganda kekuatannya setelah dilambari dengan kekuatan sukmanya. Sekalipun seseorang tidak memiliki ilmu kesaktian kanuragan, tetapi kekuatan fisiknya akan menjadi jauh lebih kuat ketika dilambari dengan kekuatan sukmanya, suatu kekuatan yang jelas tidak semata-mata berasal dari kekuatan fisiknya.

Seseorang yang menekuni dan mendalami ajaran ini biasanya akan memiliki kegaiban dan kekuatan sukma yang tinggi, yang berasal dari penghayatan kebatinan dan keselarasan sukmanya dengan kemaha-kuasa-an Tuhan, menjadikan mereka memiliki kegaiban tinggi sebagai orang-orang yang linuwih dan waskita. Mereka membentuk pribadi dan sukma yang selaras dengan keillahian Tuhan. Mereka membebaskan diri dari belenggu keduniawian, sehingga berpuasa dan berprihatin tidak makan dan minum berhari-hari bukanlah beban berat bagi mereka, dan melepaskan keterikatan roh mereka dari tubuh biologis mereka, kemampuan melolos sukma, bukanlah sesuatu yang istimewa. Bahkan banyak di antara mereka yang kemudian moksa, bersama raganya berpindah dari alam manusia ke alam roh tanpa terlebih dahulu mengalami kematian.
Pengetahuan dan ajaran tentang Sedulur Papat Kalima PancerManunggaling Kawula Lan GustiSangkan Paraning Dumadi,  Sukma Sejati, Guru Sejati, dsb, sebenarnya adalah puncak-puncak dari keilmuan kebatinan dan spiritual jawa, jauh sebelum datangnya agama Islam di pulau Jawa. Konsep-konsep tersebut adalah terminologi asli kejawen dan adalah hasil pencapaian kebatinan dan spiritual tokoh-tokoh kejawen, yang kemudian diajarkan kepada para pengikutnya, dan akhirnya berkembang menjadi ajaran kebatinan jawa atau menjadi aliran kepercayaan kerohanian kejawen.
Istilah kebatinan Manunggaling Kawula Lan Gusti, yaitu ajaran penghayatan penyatuan dan keselarasan manusia dengan Tuhan, adalah istilah di dalam kepercayaan kebatinan jawa dan menjadi tujuan dari laku penghayatan kepercayaan kejawen. Tetapi istilah itu menjadi populer setelah digunakan oleh Syech Siti Jenar dalam ajaran kebatinan Islam jawa, karena saat itu bertentangan dengan pendapat Sunan Kudus yang menganggap ajaran itu bukan murni ajaran Islam. Dalam hal ini Syech Siti Jenar sebagai seorang pemuka agama Islam dianggap telah mengajarkan ajaran yang bukan asli ajaran Islam, menyimpang dari ajaran Islam yang benar, dan dianggap sesat.
Syech Siti Jenar pada dasarnya adalah seorang ulama / pengajar agama Islam yang datang dari luar Jawa. Pengetahuan kebatinan kejawen dipelajarinya dari Ki Ageng Pengging, dan yang dipelajarinya hanyalah intisarinya saja, untuk menambah wawasan kebijaksanaannya tentang kejawaan dan menambah kedalaman kebatinan ketuhanannya. Ajaran kejawen itu pada dasarnya adalah ajaran penghayatan ketuhanan dari sudut pandang orang Jawa. Dan atas pemahamannya pada ajaran kebatinan ketuhanan kejawaan itu Syech Siti Jenar menemukan banyak pencerahan mengenai agamanya sendiri, agama Islam, mendapatkan sudut pandang lain tentang pemahaman ketuhanan yang tidak akan didapatkannya jika hanya mengikuti tata cara Islam seperti yang selama ini dijalaninya. Kebatinan Jawa pada dasarnya adalah pemahaman dan penghayatan kepercayaan manusia Jawa terhadap Tuhan, yang kemudian diajarkan turun-temurun menjadi tradisi dan warisan budaya leluhur sejak jaman kerajaan purba, jauh sebelum hadirnya agama Hindu-Budha dan Islam di pulau Jawa. Penghayatan ketuhanan itu bukanlah agama. Agama bisa apa saja, tetapi, di samping ajaran ketuhanan dalam agamanya, masyarakat Jawa mempunyai penghayatan sendiri tentang Tuhan. Agama Hindu dan Budha yang sudah lebih dulu masuk ke Jawa telah diterima dengan baik oleh masyarakat Jawa dan mewarnai sikap kebatinan Jawa, karena memiliki banyak kesamaan dengan kebatinan dan spiritualisme Jawa.

Pemahaman yang dalam mengenai ketuhanan Islam setelah menjalani laku penghayatan kebatinan ketuhanan cara Jawa telah memperkaya wawasan ketuhanan Syech Siti Jenar dan menjadi bahan untuk mengajarkan agama Islam di pulau Jawa. Semua pengetahuan itu berguna dalam mengadaptasikan ajaran Islam kepada masyarakat jawa pada saat itu yang mayoritas adalah penganut kejawen, dan berguna untuk bertukar pikiran atau berdebat tentang ketuhanan dan agama, tetapi selain itu laku penghayatan kebatinan itu juga telah menambah tinggi kekuatan kebatinan dan kegaiban sukma Syech Siti Jenar sendiri.


Di Jawa ada seorang pertapa / panembahan yang dahulu hidup pada jaman kerajaan Kediri. Beliau adalah salah satu orang yang menekuni ketuhanan kejawaan di atas. Beliau juga moksa. Tetapi tidak seperti manusia moksa yang lain, beliau, karena kekuatan ilmunya, dapat bebas keluar masuk alam manusia dan alam gaib. Ketika masuk ke alam manusia, beliau benar-benar berwujud manusia berdaging. Ketika masuk ke alam gaib, beliau akan sama dengan sukma / roh manusia yang lain.

Tidak seperti roh manusia lain yang sudah menerima hidupnya sebagai roh, beliau aktif mencari keberadaan Tuhan dan mengejar kesempurnaan menyatunya dirinya dengan Tuhan. Dari dulu sampai sekarang sudah banyak tokoh keagamaan di alam roh (almarhum) yang ditemuinya, tetapi tidak ada satu pun yang dapat menyempurnakan penyatuannya dengan Tuhan. Begitu juga ketika hadir dalam sosok manusianya di alam manusia yang masih hidup, tidak ada satu pun yang ditemuinya dapat mengantarkan dirinya menyatu dengan Tuhan. Mungkin suatu saat kita sendiri dapat bertemu dengan beliau, di kehidupan yang sekarang atau nanti di kehidupan setelah kematian.

Ini adalah salah satu contoh kuatnya keyakinan kepercayaan manusia kepada Tuhan. Tetapi manusia dengan usahanya sendiri tidak dapat mencapai Tuhan, dan Tuhan juga tidak menunjukkan kesejatianNya kepada semua orang, kecuali kepada orang-orang tertentu saja yang Dia berkenan.
Bagi mereka yang mempelajari atau diberi ilmu-ilmu gaib, sudah umum bila mereka berkaitan dengan gaib, ada penyatuan secara langsung maupun tidak langsung, antara dirinya dengan gaibnya. Gaib itu bisa menjadi khodam pendamping, ataupun dihadirkan untuk diperintah melaksanakan tujuan dari ilmu gaibnya, seperti untuk keselamatan, kekuatan / kesaktian, pelet, santet, guna-guna, pengasihan, penglaris dagangan, dsb. Jenis-jenis ilmu inilah yang biasa disebut sebagai ilmu khodam, yaitu yang menggunakan jasa mahluk gaib lain (khodam ilmu / prewangan) sebagai kekuatan ilmunya. Tingkat kemanjuran ilmunya tergantung pada tingkat penyatuan seseorang dengan khodamnya dan kekuatan dari khodamnya itu sendiri.

Di beberapa tempat di Indonesia juga kerap terdengar cerita tentang seseorang yang ketempatan sesuatu roh, yang kemudian menyebabkan orang tersebut dapat melakukan perbuatan-perbuatan ajaib di mata umum. Biasanya roh yang datang kepadanya itu adalah khodam dari leluhurnya yang merasa cocok dengannya dan mengikut. Khodam itulah yang menyebabkannya dapat melakukan perbuatan-perbuatan ajaib yang sebelumnya sama sekali tidak dapat dilakukannya, seperti mengobati / menyembuhkan orang sakit secara gaib, meramal, dsb. R
oh gaib tersebut menyatu dengan orang tersebut, sehingga kekuatan ilmunya menjadi sebanding dengan roh tersebut.
Di negara India dan sekitarnya, yang hingga saat ini masih tetap merupakan wilayah dengan budaya kebatinan dan spiritual nomor 1 tertinggi di dunia, ada banyak ajaran tentang Kemanunggalan manusia dengan Sang Penguasa Alam, bentuknya adalah ajaran penyatuan dan pemujaan kepada Dewa-Dewa India, yang mereka percayai sebagai figur-figur yang mewakili Sang Penguasa Alam, dan menempatkan hidup mereka di bawah naungan para Dewa.

Di wilayah itu juga ada banyak sekali ajaran ilmu khodam, yaitu penyatuan manusia dengan roh lain sebagai kekuatan ilmunya. Penyatuan yang paling tinggi antara manusia dengan roh lain adalah berupa penitisan roh Dewa ke dalam diri seseorang, seperti penitisan Dewa Wisnu ke dalam pribadi Prabu Kreshna  (Dewa Wisnu juga pernah menitis ke dalam diri
Prabu Airlangga, raja kerajaan Kediri, dan Prabu Siliwangi, raja kerajaan Pajajaran). Penyatuan itu menghasilkan kesaktian dan kewaskitaan yang luar biasa, bahkan semenjak si manusia tersebut masih kecil dan belum belajar ilmu kesaktian. Penyatuan dari penitisan ini merupakan bentuk kesaktian kemanunggalan tertinggi yang diketahui manusia, kecuali ada penitisan roh duniawi lain yang lebih sakti dari dewa.Budha Gautama adalah seorang bangsawan yang telah meninggalkan keduniawiannya untuk menjalani panggilan hidup sebagai seorang spiritualis yang akan menerangi orang lain agar menjadi lebih baik kualitas kepribadiannya sebagai manusia. Seorang spiritualis sejati, yang karena panggilan hidupnya, beliau telah meninggalkan segala pamrih duniawi dan menjalani berbagai macam laku tirakat dan prihatin untuk mencapai tujuannya. Beliau telah mencapai tahapan "Pencerahan" setelah mengenal sifat-sifat Tuhan dari "Cahaya" -Nya dan karenanya kemudian juga mengetahui banyak rahasia kehidupan, sehingga menjadi seorang yang "Tercerahkan" dan beliau mendedikasikan diri sesuai panggilan hidupnya.

Sesuai pencapaiannya itu juga segala keilmuan kesaktian kanuragan, kebatinan dan spiritualnya menjadi bertumbuh-bertambah, karena beliau telah menguasai aspek filosofis dari keilmuannya, menjadi seorang yang digdaya, linuwih dan waskita, jiwa dan raganya. Karenanya, beliau menjadi seseorang yang memiliki kesaktian "super" dibandingkan manusia lain, semasa hidupnya di dunia maupun sukmanya setelah hidup di alam roh. Dan atas dedikasinya pada panggilan hidupnya itu menjadikannya seseorang yang memiliki hikmat kebijaksanaan kesepuhan yang digunakannya untuk menerangi dan mengayomi orang lain.

Banyak pengikutnya yang meneladani hidupnya dan melaksanakan keagamaan dan meditasi sesuai ajarannya untuk juga dapat mencapai tahapan "Pencerahan", dan beberapa di antaranya sudah berhasil mencapai tingkatan Budha. Tetapi ajarannya itu adalah untuk mendapatkan pencerahan, bukan untuk manunggal dengan Tuhan.

Berbagai bentuk ajaran dan keilmuan tersebut di atas, sekalipun terkait dengan ajaran ketuhanan, tingkatannya belum dapat menyamai tingkatan kemanunggalan
Manunggaling Kawula Lan Gusti yang sempurna seperti dimaksudkan disini.

  Pencarian Roh dan Ketuhanan

Termasuk yang sudah disebut di atas, ada banyak ajaran tentang  Kemanunggalan,  bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain dan di berbagai belahan bumi ini, tetapi tidak ada satupun ajaran itu yang dapat memberikan hasil pencapaian yang sempurna, seperti yang seharusnya.

Kegagalan  dalam mencapai tingkat kesempurnaan dari ajaran Kemanunggalan tersebut disebabkan oleh tidak adanya 2 unsur pokok dalam ajarannya, yaitu :

 1.  Tidak adanya konsep yang benar tentang Tuhan.

Konsep yang benar tentang tujuan yang ingin dicapai dalam suatu ajaran akan menentukan arah dan cara yang dijalani oleh para pelakunya. 
Konsep yang keliru tentang Tuhan, dan cara yang keliru untuk mencapai Tuhan, tidak akan mengantarkan siapapun kepada Tuhan, apalagi manunggal denganNya.
 2.  Tidak adanya Guru Sejati.
Dalam semua ajaran, harus ada sosok Guru Sejati, yang benar telah menguasai pengetahuan ajarannya, yang benar telah mencapai tingkat kesempurnaan sesuai ajarannya, dan yang benar dapat membawa semua yang diajarnya kepada tingkat kesempurnaan seperti dirinya.

Dalam ajaran Kemanunggalan tersebut di atas, yang menjadi Guru Sejati haruslah yang benar sudah mengetahui kebenaran tentang Tuhan dan benar sudah mencapai tingkat Kemanunggalan, supaya dapat menuntun semua yang diajarnya kepada pengetahuan yang benar dan tingkat yang sama dengan dirinya.

Tetapi yang umumnya terjadi, yang ada adalah figur-figur tertentu, yang sekalipun belum memperoleh pengetahuan yang benar tentang Tuhan dan belum mencapai tingkat Kemanunggalan, tetapi mengajarkan ajaran tersebut, ajaran yang berupa "agama" atau aliran kepercayaan tertentu, dan menciptakan dogma dan doktrin yang 'memaksa' / mengharuskan orang lain untuk melaksanakan ajarannya, ditambah adanya sangsi / hukuman  bagi yang tidak mematuhinya.

Banyak orang berusaha mencari jalan untuk mendapatkan  'Pencerahan'  mengenai konsep yang benar tentang Tuhan, tetapi tidak semua orang yang mencari Tuhan berhasil dalam usahanya, dan Tuhan
sendiri juga tidak menunjukkan  kesejatian-Nya  kepada mereka,  karena  Tuhan mempunyai jalan-Nya sendiri

Dengan kemampuannya sendiri manusia tidak dapat mencapai Tuhan, karena Tuhan-lah yang berkuasa menentukan kepada
siapa Dia berkenan menunjukkan diriNya dan kepada siapa Dia berkenan memanunggalkan diriNya.

Tetapi kepada mereka yang tekun mencariNya, Tuhan memberikan 'Cahaya' -Nya, sehingga mereka tidak pulang dengan tangan kosong, tidak menghabiskan hidup untuk perbuatan yang sia-sia, berhasil mendapatkan pencerahan atas apa yang dicarinya, walaupun sebatas hanya 'Cahaya'-Nya saja, bukan 'Sejati'-Nya.

Itulah yang kemudian diajarkan kepada banyak orang,  yaitu  'Cahaya' - Nya, bukan  'Sejati' - Nya, ajaran yang selalu disebutkan berasal dari 'Wahyu'  Tuhan. Padahal yang dibutuhkan adalah ajaran yang benar tentang 'Sejati' - Nya Tuhan, supaya manusia dapat mengenal pribadi-Nya dengan benar dan dapat mengetahui juga jalan yang benar menuju Tuhan. Karena konsep tentang Tuhan masih belum tepat, maka ajaran-ajaran tersebut tidak dapat mengantarkan seseorang untuk dapat sampai kepada Tuhan, dan semua orang yang menjalankan ajarannya tidak ada satu pun yang dapat membuktikan bahwa dirinya telah mencapai kondisi manunggal dengan Tuhan.

Tetapi dalam olah kebatinan dan spiritual, seseorang yang sudah dapat menyelaraskan dirinya, kebatinan dan spiritual rohnya dengan sifat-sifat Tuhan, apalagi dengan "Cahaya"
Tuhan, walaupun belum cukup untuk mengantarkan dirinya kepada "Sejati" - Nya Tuhan, sudah dapat mendatangkan suatu kekuatan yang luar biasa besar dalam dirinya dan mampu melakukan banyak perbuatan ajaib. Mereka dapat melakukan berbagai macam perbuatan ajaib. Itulah yang menyebabkan mereka "merasa" sudah manunggal dengan Tuhan, tetapi sebenarnya mereka sendiri belum sampai pada "Sejati"-Nya Tuhan.Seseorang yang sudah dapat menyelaraskan dirinya, kebatinan dan spiritual rohnya dengan sifat-sifat Tuhan, apalagi dengan "Cahaya" Tuhan, sudah dapat mendatangkan suatu kekuatan yang besar dalam dirinya dan mampu melakukan banyak perbuatan ajaib. Tetapi kadarnya masih jauh dibandingkan mereka yang benar-benar telah mengenal Tuhan dan menyelaraskan kebatinan dan spiritual rohnya dengan  "Sejati" - Nya Tuhan, yang bukan hanya mampu melakukan perbuatan-perbuatan ajaib, tapi juga mampu mendatangkan tanda-tanda dari langit (Tuhan) ke atas bumi, termasuk mendatangkan bala tentara malaikat, jika diperlukan.

Pencapaian kebatinan dan
spiritual tentang Tuhan, akhirnya akan menjadi suatu ajaran kepercayaan kerohanian, ajaran ketuhanan, bukan lagi tentang keilmuan, termasuk oleh orang-orang yang awalnya melakukan pencarian Tuhan sebagai bagian dari keilmuan kesaktian, kebatinan dan spiritualnya. Mereka yang sudah menyelaraskan spiritual rohnya dengan Roh Tuhan, walaupun hanya sebatas "Cahaya" -Nya saja, bukan "Sejati" -Nya, dapat menghadirkan dalam dirinya suatu kuasa untuk melakukan banyak perbuatan besar dan ajaib yang berasal dari dirinya sendiri, dirinya yang "baru", dan tidak perlu lagi mengandalkan ilmu-ilmu atau amalan-amalan gaib atau ajian-ajian kesaktian lagi, yang dengan kekuatan rohnya ilmu-ilmu itu dapat seketika dengan mudah dia musnahkan keampuhannya.

  Manunggaling Kawula Lan Gusti


Banyak manusia merasa jauh dari Tuhan, tidak menemukan jalan mencapai Tuhan, tidak menemukan "Terang" Tuhan, tidak dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan manusia, karena tidak banyak manusia yang menyadari dan mengimani bahwa "Cahaya" dan "Kuasa"  Tuhan melingkupi / menyelimuti semua kehidupan di bumi. Ditambah lagi adanya berbagai macam pemikiran dan pengkultusan manusia terhadap Tuhan yang cenderung melebih-lebihkan, yang semakin mengaburkan kesejatianNya, hanya menjadikan Tuhan semakin jauh untuk dijangkau dan menjadi mustahil manusia dapat mengenal Tuhan secara pribadi.

Tuhan memberikan "Cahaya" dan "Kuasa"- Nya ke seluruh penjuru bumi, sehingga sekalipun suatu daerah di bumi belum terjamah agama, belum mengenal agama-agama formal, tetapi manusia-manusia di tempat tersebut dapat memiliki kearifan ketuhanan, memiliki kesadaran akan adanya "Roh Agung Alam Semesta", dan beberapa orang di antara mereka "terpanggil" untuk lebih dalam menekuni kebatinan dan spiritual ketuhanan, yang kemudian sebagai seorang tokoh kepercayaan akan mengajarkannya kepada orang lain sebagai ajaran ketuhanan dan kerohanian.

Tuhan memberikan Cahaya dan Kuasa-Nya ke seluruh penjuru bumi, sebagai tanda bahwa Tuhan menaungi kehidupan di bumi, sehingga manusia dapat memiliki kearifan ketuhanan, dan mereka yang memerlukan pertolongan Tuhan bisa menggunakan kuasaNya itu dengan berdoa, atau untuk berdoa meminta petunjuk, dengan menghayati kebersamaan dan kedekatanNya dengan Tuhan.

Cahaya dan Kuasa Tuhan menyelimuti seluruh kehidupan di bumi, sehingga manusia yang percaya dan  menyelaraskan dirinya dengan penghayatan / kebatinan ketuhanan akan dapat menumbuhkan kekuatan batin dan sukma yang besar.  Kuasa Tuhan itu juga bisa "dipinjam" dengan menyebut namaNya dalam pengamalan ilmu gaib, dan sesuai sugesti dan kekuatan kepercayaannya masing-masing, di dalam penghayatan kepercayaan kepada kuasa Tuhan itu manusia dapat juga melakukan berbagai perbuatan yang ajaib.

Banyak usaha manusia yang dilakukan untuk penyatuan dan penghayatan ketuhanan dan selalu menyebut nama Tuhan dalam kesehariannya, tetapi belum cukup untuk Tuhan berkenan manunggal dengan seseorang, karena Tuhan mempunyai jalanNya sendiri, dan Tuhan hanya memilih orang-orang tertentu saja yang Dia berkenan untuk memanunggalkan diriNya. Walaupun tidak semua manusia bisa manunggal dengan Tuhan, tetapi Cahaya dan Kuasa Tuhan yang menyelimuti semua kehidupan di bumi adalah karunia bagi manusia karena Tuhan menaungi kehidupan manusia.

Kuasa dan Cahaya Tuhan itu tidak bisa dipahami hanya dengan jalan agama dan ibadah formal, apalagi yang mendasarkan kepercayaannya hanya pada dogma dan doktrin agama saja dan pengkultusan, karena tujuan dari berbagai ajaran ketuhanan dan agama bukanlah untuk dianut seperti baju seragam sekolah yang dipakai sebagai lambang identitas, tetapi untuk membentuk kearifan kehidupan manusia sebagai mahluk yang telah mengenal Tuhan, supaya dapat menyelaraskan kehidupannya dengan kehidupan yang menjadi kehendak Tuhan, meninggalkan cara hidup lama sebagai mahluk yang tidak mengenal Tuhan, dan memulai hidup baru sebagai mahluk yang telah mengenal Tuhan, supaya nantinya manusia dapat layak kembali menyatu dengan Penciptanya.

Seseorang harus memiliki kearifan yang tinggi dan sikap kerohanian yang benar dalam berkeagamaan dan berketuhanan (termasuk berkebatinan dalam agama) untuk dapat dengan benar memahami ketuhanan dan menyelaraskan kehidupannya sesuai dengan kehidupan yang menjadi kehendak Tuhan, sehingga agama akan menjadi bersifat pribadi bagi para penganutnya dan tidak akan dipaksakan kepada orang lain, apalagi digunakan untuk menghakimi orang lain.


Mereka yang
benar telah manunggal dengan Tuhan, atau mengenal Tuhan, walaupun hanya sebatas "Cahaya" -Nya saja, akan tidak lagi menginginkan apa-apa dari dunia ini, termasuk semua kekuatan keilmuan dan kepemilikan duniawi. Walaupun dengan kuasa dari kemanunggalan itu seseorang dapat menjadi penguasa dunia dan tidak ada satupun mahluk dan roh duniawi yang dapat melawan kuasanya, tetapi semuanya itu tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan Kemuliaan dan Keagungan Tuhan yang telah dikenalnya, yang tidak dapat digantikan dengan apapun juga yang dapat diberikan oleh dunia ini. Yang kemudian diinginkannya hanyalah untuk dapat sesegera mungkin menyatu dengan Kemuliaan dan Keagungan itu. Dan kepada semua orang yang mau mendengarkannya, tanpa pemaksaan dan ancaman kekerasan, akan diajarkannya semua apa yang diketahuinya tentang Tuhan, yang kemudian menjadi ajaran keTuhanan, walaupun itu hanya sebatas "Cahaya" -Nya saja.Seseorang yang mengaku mengenal Tuhan, walaupun mengaku hanya sebagai perantara firman Tuhan kepada manusia, tetapi masih memiliki hasrat dan keinginan duniawi yang besar, apalagi menjadi seorang penguasa yang melakukan pemaksaan supaya ajarannya dianut oleh orang lain, maka bisa dipastikan bahwa semua pengakuannya itu adalah palsu belaka.  Penipu !   Pendusta !   Karena Kemuliaan dan Keagungan Tuhan menuntut manusia menjadi pribadi yang juga mulia dan agung, yang selaras dengan sifat-sifat Tuhan, yang jauh dari rasa kebencian dan permusuhan, termasuk kepada orang-orang yang berbeda keyakinan, karena hubungan dan kedekatan manusia dengan Tuhan bersifat pribadi, tidak dapat dipaksakan kepada orang lain, apalagi dengan kekerasan, dan manusia juga bukan robot yang bisa diprogram / dipaksa untuk percaya dan beribadah tanpa adanya keyakinan dan pengetahuan dalam dirinya yang mengantarkannya pada akhlak yang mulia.

Selain sebagai mahluk biologis, manusia sendiri juga dibekali roh, sehingga juga dapat mengetahui hal-hal yang bersifat roh. Tetapi sehari-harinya roh ini terbelenggu dalam kehidupan biologis manusia, sehingga manusia tidak peka dengan hal-hal yang bersifat roh dan banyak yang sudah tumpul batinnya. Karena itu seringkali seseorang harus bisa membersihkan hati, pikiran dan batinnya, harus bisa melepaskan belenggu keduniawiannya, untuk bisa mendalami hal-hal yang bersifat roh dan keTuhanan. Jika tidak bisa membersihkan hati, pikiran dan batinnya, maka dalam hal-hal yang bersifat roh dan keTuhanan, yang muncul kemudian adalah sifat-sifat ke-Aku-an, sok suci, sok beriman, sok tahu, sok benar.


Seseorang yang ingin mencari Tuhan, haruslah percaya pada keberadaanNya, kesejatianNya, percaya bahwa Tuhan ada di atas segala agama dan ajaran ketuhanan yang ada (keberadaan Tuhan tidak di bawah agama atau ketuhanan tertentu), dan kepercayaan kepada Tuhan harus melebihi kepercayaan pada agama atau apapun juga.

Seseorang yang ingin mencari Tuhan, haruslah murni terbebas dari segala urusan dan belenggu duniawi, termasuk bebas dari aturan-aturan agama dan ajaran ketuhanan yang ada, karena keberadaan dan kesejatian Tuhan tidak dapat dibatasi oleh agama ataupun segala macam ajaran ketuhanan. Fokus kepada pribadi Tuhan dan kesejatianNya. Yang bila kemudian ketuhanan yang benar sudah didapatkan, bila itu memang terkait dengan agama tertentu, seseorang akan tahu perbuatan apa dan keagamaan bagaimana yang seharusnya dilakukan, untuk menyelaraskan dirinya dengan kehendak Tuhan atas manusia dan dunia.


Seseorang yang dianugerahi menerima karunia "Cahaya" Tuhan  (menerima , bukan mencapai karunia), dari wajahnya akan memancar suatu aura cahaya terang berwarna putih bersih. Terlebih lagi orang yang telah manunggal dengan Tuhan, wajahnya akan terang berkilau seperti matahari, dan akan ada sinar terang dari langit yang melingkupi dirinya,  tanda  bahwa Tuhan menaungi dia dan Roh-nya terhubung dengan Roh Tuhan. Tetapi cahaya-cahaya itu hanya dapat dilihat secara gaib, karena itu adalah cahaya dari Roh-nya, bukan fisiknya. Di dalam kemanunggalan itu Rohnya terhubung dengan Tuhan, sehingga dapat selalu mengetahui apa yang menjadi kehendak Tuhan dan dapat bertindak setiap saat tanpa perlu menunggu turunnya wahyu atau perintah dari Tuhan.

Seseorang yang telah manunggal dengan Tuhan, ada tanda lain yang menyatakan bahwa dirinya telah satu dengan Tuhan, yaitu sukma / roh - nya berpakaian jubah panjang berwarna putih bersih dan terang berkilau seperti malaikat. Itulah tanda dari Tuhan, yang berarti Tuhan sudah mengangkat derajatnya, rohnya sudah mendapatkan tubuh yang baru, sehingga rohnya tidak lagi tergolong sebagai roh-roh duniawi, tetapi sudah terhitung sebagai roh illahi. Dan dengan roh-nya yang baru itu dia memiliki kuasa yang besar, kuasa yang  lebih  daripada kuasa roh apapun di bumi. Dan dia berkuasa pula mendatangkan tanda-tanda dari langit, tanda-tanda dari Tuhan, ke atas dunia, jika diperlukan.

Mereka yang telah manunggal dengan Tuhan, semua perkataan mereka, yang berasal dari kemanunggalan itu, akan sama dengan firman Tuhan, karena Tuhan hadir di dalam kemanunggalan itu dan berkata-kata melalui mereka. Dalam hal ini mereka bukan Nabi, tetapi lebih daripada Nabi, karena Allah yang hadir di dalam kemanunggalan itu menyatakan sendiri KuasaNya. Dan di dalam kemanunggalan itu, semua perbuatan-perbuatan mereka, termasuk mendatangkan tanda-tanda dari langit, adalah perbuatan Tuhan sendiri yang berkenan menunjukkan kuasaNya kepada manusia, melalui mereka.


Banyak keajaiban bila seseorang menyelaraskan diri dengan Tuhan, walaupun belum manunggal dengan Tuhan. Mereka yang menyelaraskan diri dengan roh-roh duniawi pun banyak yang bisa membuat keajaiban, misalnya dengan ilmu gaib dan ilmu khodam, atau pada orang-orang yang ketempatan khodam leluhur atau yang ketitisan dewa. Dalam hal ini mereka memanunggalkan diri dengan yang bersifat duniawi.

Dalam hal kemanunggalan dengan Tuhan, berarti bukan hanya si manusia yang manunggal dengan Tuhan, tetapi Tuhan juga memanunggalkan diiri-Nya dengan orang itu. Yang tertulis di atas adalah tanda-tanda gaib manusia yang telah manunggal dengan Tuhan yang jelas berbeda dengan seseorang yang manunggal dengan yang bersifat duniawi, walaupun juga mampu membuat mukjizat.

Dalam hal kemanunggalan dengan Tuhan, berarti ada interaksi antara 2 pihak, yaitu si manusia dan Tuhan.
Si manusia memanunggalkan dirinya dengan Tuhan dan menempatkan dirinya di bawah Kuasa Roh Allah, sehingga Roh Allah hidup di dalam dirinya, menjadikannya menyatu dengan Roh Allah dan Kuasa Allah meliputi dirinya.
Tuhan memanunggalkan diri-Nya dengan si manusia dan memberinya Kuasa-Nya 
(Kuasa Illahi yang sering juga disebut sebagai Kekuatan / Tenaga Roh).

Tanda-tanda di atas adalah tanda bahwa Tuhan berkenan manunggal dengan seseorang, menaunginya dan memuliakannya, sehingga si manusia tidak lagi tergolong sebagai mahluk duniawi, tetapi sudah menjadi mahluk illahi beserta segala KuasaNya.

Mereka yang telah manunggal dengan Tuhan, maka Tuhan mengangkat derajatnya, rohnya sudah mendapatkan tubuh yang baru, sehingga tidak lagi tergolong sebagai roh-roh duniawi, tetapi sudah terhitung sebagai roh illahi. Rohnya yang baru itu memiliki kuasa yang besar, yang lebih daripada kuasa roh apapun di bumi. Dan dengan Kuasa Tuhan mereka berkuasa pula mendatangkan tanda-tanda dari langit, tanda-tanda dari Tuhan, ke atas dunia, jika diperlukan.


Bila anda menemukan  tanda-tanda  (gaib) seseorang yang telah  manunggal  dengan Tuhan, seperti disebut di atas, siapapun dia, apapun agamanya, belajarlah kepadanya, supaya dapat menjamin bahwa jalan kepercayaan dan keagamaan anda benar menuju Tuhan yang benar, bukan hanya bersikukuh dan fanatik dengan agama dan kepercayaan, dogma dan doktrin, atau ego, pendapat dan ke-Aku-an sendiri, yang akhirnya ternyata hanya memperebutkan pepesan kosong dan tidak mengantarkan anda kepada Tuhan yang benar.

---------------------


               www.nur-maunah.blogspot.com
 

Silakan kirimkan via email ke:  hikmatul.ilmi@gmail.com   untuk menyampaikan pendapat / komentar dan cerita-cerita atau pengalaman anda untuk dapat dimuat di forum ini.

6 komentar:

  1. permisi,saya ingin balajar lebih jauh bolehkah?

    BalasHapus
  2. Sebaiknya jangan membajak tulisan orang mas.
    thanks

    BalasHapus
  3. setuju dengan komentar di atas...
    Thx

    BalasHapus
  4. Sudah menjiplak dikurangin lgi ati2 lho nanti penulis yg asli marah...kualat anda

    BalasHapus
  5. JAMAN BARU DATANG UNTUK MEMBUKA TABIR
    SANGKAN PARANING DUMADI
    SANGKAN PARANING DUMADI
    SANGKAN PARANING DUMADI

    Dalam Penggalian MANDALAJATI NISKALA
    Memasuki Ruang Insun,Telah Melahirkan
    Konsepsi SANGKAN PARANING DUMADI
    Yang Fitrah, Original & Sangat Anyar.
    KONSEPSI TERSEBUT BETUL BETUL BEGITU
    SEDERHANA, NAMUN SANGAT MENYERUAK
    DI KEDALAMAN YANG TANPA BATAS, sbb:

    1♥Barang siapa yang memahami NAFAS~nya,
    akan memahami rahasia HU~DA~RA~nya.
    (HU~DA~RA adalah Whitehole berupa potensi
    JAWAHAR AWAL, yang menjadi sistem
    TRI TANGTU DI BUWANA, dan jadilah ketentuan
    Tuhan SEGALA MACAM KEJADIAN
    SECARA SISTEMIK TERMASUK MANUSIA)

    2♥Barang siapa yang memahami HU~DA~RA~nya,
    akan memahami potensi HI~DI~RI~nya.
    (Potensi HI~DI~RI meliputi:
    HI adalah alam Subconcious
    DI adalam alam Concious
    RI adalah alam Heperconcious)

    3♥Barang siapa yang memahami HI~DI~RI~nya,
    akan memahami satuan terkecil DI~RI~nya.
    (Tribaka, Panca Azasi Wujud &
    Panca Maha Buta)

    4♥Barang siapa yang memahami DIRI~nya,
    akan memahami HI~DIR~nya.
    (Kesadaran Semesta = Kesadaran Manunggal)

    5♥Barang siapa yang memahami HI~DIR~nya,
    akan memahami satuan terkecil ATMA~nya.
    (Kehidupan JAWAHAR AKHIR yang mengendap
    pada Tribaka)

    6♥Barang siapa yang memahami ATMA~nya,
    akan memahami TAMAT~nya.
    (Reaktor Nuklir dari akumulasi satu
    Oktiliun Tribaka pada tubuh manusia,
    yang segera memasuki Blackhole
    untuk keluar dari Jagat Raya
    dan meledak menjadi Bigbang,
    di ruang hampa, gelap gulita,
    bertekanan minus)

    7♥Barang siapa yang memahami TAMAT~nya,
    akan memahami WIWIT~nya.
    (Ledakan Bigbang membentuk Whitehole
    yaitu berupa potensi Jawahar Awal
    di Jagat Raya Baru)

    Peringatan dari Mandalajati Niskala:
    "JIKA ANDA SULIT UNTUK MEMAHAMI,
    LEBIH BAIK ABAIKAN SAJA. TERIMA KASIH)

    ════════════════════════════

    Syair Sunda:
    JAWAHAR AKHIR NGARAGA~DIA
    ditulis ku Mandalajati NIskala

    Atma na sakujur raga.
    Hanargi museur na tazi.
    Bobot Bentang JAGAT RAYA panimbangan.
    Paeunteung eujeung.

    Ziro sazironing titik Nu Maha Leutik.
    Madet dina JAGAT LEUTIK.
    Gumulung sakuliahing cahya.
    Ngahideung Nu Maha Meles.
    Ngan beuratna Maha Beurat.

    Insun gumulung nu Tilu NGAMANUNGGAL;
    PARA~TRI~NA, NI~TRI~NA jeung
    HOLIK~TRI~NA dina Jawahar Akhir.

    Tandaning Insun lulus nurubus.
    Lolos norobos, Robbah lalakon.
    Kaluar tina Sapanunggalan Gusti Nu Maha Suci.
    Bitu ngajelegur.
    Manggulung-gulung kabutna.
    Huwung nungtung ngahujung.

    Jadi jumadi ngajadi.
    INSUN ROBBAH NGARAGADIA.
    Gelar Ngajawahar Awal.
    Gusti papanggih jeung Gusti.
    Dina babak carita SAWA~RAGA~ANYAR.

    Ahuuung
    Ahuuung
    Ahuuung
    Aheeeng.

    ════════════════════════════
    Artikulasi Sunda:
    PANTO JAWAHAR AWAL
    KA PANTO JAWAHAR AKHIR
    ditulis ku Mandalajati NIskala

    Manusa sategesna bagian ti Gustina.
    Kum eusi samesta KOKOJAYAN
    di jero HAWA~K GUSTI NU MAHA AGUNG
    (Zibghotulloh).

    Sagala rupa kaasup Manusa MANUNGGAL
    DINA JERO HAWA~K GUSTI NU MAHA AGUNG
    (Sapanunggalan).

    Gusti NU MAHA AGUNG mibanda TILU
    ENERGI PRIMER (Tri Tangtu Di Buwana),
    nu gumulung jadi tunggal tampa wates
    disebut;
    JAWAHARA HAWAL WAL HAKHIR (JHWH)

    SANG MAHA AGUNG
    nyaeta "JHWH" dina CAKUPAN ALAM MAKRO,
    mibanda:
    Energi "HU" Acining Cahi,
    Energi "DA" Acining Taneuh,
    Energi "RA" Acining Seuneu.
    Tiluanana Gumulung dina SAJATINING HUDARA,
    salaku PANTO HAWAL Zat Abadi Makro,
    nu disebut JAWAHAR HAWAL WHITEHOLE,
    nyaeta proses DIA NGAJADIKEUN INSUN.

    SANG MAHA LEMBUT
    nyaeta "JHWH" dina CAKUPAN ALAM MIKRO,
    mibanda:
    Energi "HU" Proton,
    Energi "DA" Netron,
    Energi "RA" Elektron.
    Tiluanana Gumulung dina SAJATINING HATOM,
    salaku PANTO HAKHIR Zat Abadi Mikro,
    nu disebut JAWAHAR HAKHIR BLACKHOLE,
    nyaeta proses INSUN JADI DIA.
    ════════════════════════════
    Filsuf MANDALAJATI NISKALA, sbg:
    Zaro Bandung Zaro Agung
    Majelis Agung Parahyangan Anyar.

    Klik di google Mandalajati Niskala
    BACALAH SELURUH SULUR BUAH PIKIRANNYA.

    @Sandi Kaladia

    BalasHapus
  6. Kalo menjiplak... Jangan ada yg dipotong postingannya mas.. Atau memang ada udang dibalik peyek nih..

    BalasHapus