Home

Minggu, 28 Oktober 2012

Pencarian Kebatinan Baru

Pencarian ‘Kebatinan’ Baru



Ketentraman dan kebahagiaan rohani kini menjadi barang yang mahal.
Upaya mendapatkan kebahagiaan banyak menjerumuskan manusia pada kebendaan. Kelimpahan materi untuk mencukupi semua kebutuhan hidup, sekaligus sarana untuk bersenang-senang, menjadikan manusia sangat bergantung pada keduniawian semu dan sesaat. Kehidupan bertetangga pun sudah tidak lagi seerat jaman dulu. Banyak orang tidak saling mengenal, walaupun tinggal berdekatan dalam satu lingkungan. Masing-masing hidup dalam duniawinya sendiri-sendiri. Tidaklah bisa dipungkiri, karena kesepian dan kekosongan jiwa akhirnya mengakibatkan mereka menjadi malas beribadah atau mencari alternatif lainnya seperti narkoba, alkohol, menonton film-film hiburan, mengunjungi tempat-tempat keramaian, dsb.
Agama tidak bisa mencegah runtuhnya adat istiadat ataupun ikatan kekeluargaan. Bahkan pada banyak kasus, agama (perbedaan agama) justru menjadi sarana runtuhnya adat istiadat dan ikatan kekeluargaan. Di zaman teknologi dan komunikasi canggih seperti sekarang ini kenyataannya kita menjadi semakin kesepian, bahkan telah menjalar sampai kepada masyarakat desa, sehingga mereka pun merasakan kesepian batin. Kehampaan dan kekosongan jiwa menyebabkan manusia harus mencari pengisi hati di berbagai macam tempat hiburan, dan tiap weekend dan hari libur mereka ber-bondong-bondong mencari sesuatu yang bisa mengisi kekosongan jiwa. Tetapi kenyataannya hanya kebahagiaan semu dan sementara sajalah yang mereka dapatkan.

Ketentraman dan kebahagiaan ada di dalam hati. Karir bagus, materi berlimpah, bukan jaminan merasa bahagia dan cukup. Kegundahan, tak punya pegangan hidup dan kekosongan jiwa, banyak dirasakan manusia dewasa ini, ditambah lagi dengan problematika hidup yang melilit dan membelenggu jiwa dan pikiran. Harapan menemukan jalan keluar dilakukan dengan berbagai cara untuk mengantarkan manusia pada kebahagiaan dan ketenangan batin. Upaya untuk mendapatkannya mendorong sebagian orang untuk mengikuti kegiatan-kegiatan dalam berbagai komunitas, komunitas olah raga, hobby, komunitas lingkungan, komunitas agamanya, ada juga yang menelusuri komunitas-komunitas spiritual lintas agama.
Kecenderungan manusia sejak dahulu adalah keinginannya untuk tidak terbelenggu dalam ikatan-ikatan. Manusia juga ingin lepas dari sikap fanatis. Banyak yang memilih hidup dalam pandangan-pandangan yang universal dan lintas agama, lintas suku dan bangsa. Di Jawa ada aliran-aliran spiritual kebatinan tertentu, yang tidak berpegang pada ajaran agama tertentu, seperti Aliran Kepercayaan Sumarah, Subud (Susila Budhi Darma), Sapto Darmo, Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu), ajaran Manunggaling Kawula Lan Gusti, dsb. Pada masa sekarang, tak sedikit yang bergabung dengan komunitas-komunitas seperti komunitas Anand Krisna, Lia Eden, Baha’i, Sai Baba dan aliran kebatinan spiritual lainnya.
Di dalam komunitas lintas agama inilah, mereka melakukan berbagai ritual, meditasi dan kegiatan-kegiatan lain yang menyerupai peribadatan agama tertentu. Mereka menemukan intisari dari kebijaksanaan hidup. Bahkan mereka merasakan adanya persaudaraan di dalam komunitasnya, persaudaraan universal kemanusiaan, yang tidak membeda-bedakan ras (bangsa), agama, jenis kelamin, kasta, warna kulit, atau apapun juga.
Orang-orang yang mengikuti komunitas tersebut mempunyai latar belakang agama yang bermacam-macam, seperti Islam, Kristen, Katolik, Budha, dan sebagainya. Ajaran-ajaran dalam komunitas tersebut kerap mengatakan bahwa semua agama adalah jalan yang benar menuju Tuhan. Ajaran mendasar dari konsep ini adalah kebenaran agama yang universal. Ajaran ini mengajak manusia mempelajari perbandingan agama-agama, filsafat dan ilmu pengetahuan.
Dengan propaganda  ”mempersatukan dan menghapus pemisah antar manusia”  inilah kemudian berkembang doktrin ”semua agama sama”,  atau “semua agama benar”, karena merupakan jalan yang sama-sama sah untuk menuju Tuhan yang satu. Gerakan inilah yang kemudian disebut New Age Movement (Gerakan Era Baru), berusaha memadukan antara nilai-nilai Barat dan Timur, lewat jalan menggali dan mempelajari apa yang mereka sebut sebagai the ancient wisdom, kearifan masa lalu. Hingga saat ini, gerakan New Age terus berkembang di berbagai negara.
Kehadiran komunitas spiritual kebatinan tentu berbeda dengan agama. Acuan agama bukanlah hasil pikir dan perenungan manusia, melainkan wahyu. Sedangkan materi kebatinan merupakan kreasi manusia, yang mengkombinasikan kebijaksanaan dari banyak macam kepercayaan, mulai dari kepercayaan animisme dan dinamisme zaman prasejarah, ajaran-ajaran dewa dan kepercayaan-kepercayaan kuno, teknik-teknik meditasi, mistik, tasawuf, filsafat, psikologi, bahkan sampai kultus-kultus individu terhadap pemimpin atau pendiri pertama aliran-aliran tertentu.
Kebanyakan aliran kebatinan memang kerap mensitir keterangan agama, tetapi bukan sebagai patokan dasar, melainkan sebagai cara untuk memperkuat ajaran-ajaran kebatinan. Atas nama Hak Asasi Manusia dan kebebasan, mereka menggabungkan agama-agama yang berujung pada pluralisme agama, bahkan menghilangkan semua batasan agama yang ada.
Pendekatan kebatinan spiritual seperti ini membuat fungsi terpendam agama, seperti ketenangan batin dan kebahagiaan, menjadi nyata dan bisa dirasakan oleh semua anggotanya. Karena itu, semua aktivitas ‘keagamaan’ dan spiritual yang mereka lakukan dinilai dari bisa atau tidaknya memenuhi fungsi menenangkan batin, mengisi kekosongan jiwa dan menciptakan kebahagiaan yang dirasakan oleh para pelakunya.
Kuncinya adalah pada persekutuan hati.
Di dalam rumah ibadah, kebanyakan orang hanya menjalankan rutinitas peribadatan saja, tidak ada persekutuan hati di antara mereka. Inilah yang menyebabkan sekalipun seseorang rajin beribadah di rumah ataupun di dalam rumah ibadah, tetap saja merasakan kekosongan hati. Dan kekosongan hati tidak bisa dipenuhi hanya dengan rutinitas ibadah dan berbagai macam khotbah dan dogma / doktrin agama. Harus ada persekutuan hati yang bisa merekatkan hubungan hati antar sesamanya dan rasa kehangatan yang mengisi hati.
Di dalam perkumpulan kebatinan tersebut sifat kekeluargaan anggotanya jauh lebih erat daripada di rumah ibadah dan sifat kebatinannya jauh lebih menonjol dan jauh lebih diutamakan daripada sifat formalitasnya. Inilah yang mendorong banyak orang bergabung di dalam perkumpulan kebatinan.
Pihak kebatinan tidak pernah menyerang atau merendahkan pihak agama. Tetapi banyak manusia di pihak agama memandang sinis terhadap keberadaan perkumpulan kebatinan, bahkan memusuhinya dan menganggap bahwa kebatinan itu sebagai agama liar dan sesat. Padahal kedua-duanya mempunyai unsur yang sama, yaitu percaya kepada Tuhan dan mengajarkan budi luhur, dan anggota-anggotanya juga beragama. Walaupun ada saja orang yang ikut perkumpulan kebatinan sebagai "pelarian",  tetapi sebagian besar orang di dalam perkumpulan itu menyadari sepenuhnya bahwa perkumpulan kebatinan itu bukanlah agama dan mereka pun menjadikan perkumpulan itu hanya sebagai pelengkap kehidupan kerohanian mereka saja.
Di luar sikap menghakimi mengenai benar-salahnya atau legal-tidaknya aktivitas kebatinan seperti tersebut di atas, seyogyanya ini menjadi masukan yang berharga bagi para pemuka agama dan para penganut agama. Keberadaan agama bukan untuk ‘memaksa’ manusia untuk memeluk agama dan mengharuskan menjalankan aturan-aturannya, tetapi juga harus dapat merangkul dan mengayomi mereka yang mencari Tuhan, mencari kebenaran Tuhan, mencari ketentraman batin, dan mencari pengisi kekosongan jiwa, yang tidak bisa didapat hanya dengan cara mengikuti rutinitas peribadatan, khotbah dan ajaran-ajaran ‘fanatik’, dogma dan doktrin agama yang mendorong manusia menjadi 'terkotak-kotak' dan 'terbelenggu', apalagi yang sampai melakukan pembenaran atas perbuatan menghakimi dan kekerasan dengan nama agama. Hubungan manusia dengan Tuhan bersifat pribadi, tidak bisa dipaksakan, apalagi dengan kekerasan.


--------------------------


                   www.nur-maunah.blogspot.com


 
Silakan kirimkan via email ke: hikmatul.ilmi@gmail.com untuk menyampaikan pendapat / komentar dan cerita-cerita atau pengalaman anda untuk dapat dimuat di forum ini.

Mistisisme dan Klenik

Mistisisme dan Klenik



Mistisisme berhubungan dengan apa yang dirasakan manusia dengan batinnya, dengan rasa, dengan rohnya. Mistis adalah segala sesuatu kejadian atau fenomena dalam kehidupan yang ditangkap manusia dengan batinnya, dengan rasa, dengan rohnya, mengenai segala sesuatu yang dirasakan dan diyakini nyata dan ada, tetapi tidak tampak mata, tidak dapat secara langsung diinderai oleh panca indra manusia. Mistisisme adalah kepercayaan seseorang yang meyakini tentang sesuatu yang tidak tampak mata, tetapi ada, karena bisa diinderai dengan rasa dan batin. Mistisisme tidak sama dengan mitos dan tahayul, yang tidak dapat diinderai dengan rasa dan batin, yang manusia bisanya hanya percaya atau tidak saja.

Sesuai kodrat dan hakekatnya sebagai mahluk duniawi dan illahi, sesuai tujuan awal penciptaan manusia, manusia dibekali dengan akal budi dan roh, bukan hanya insting dan naluri untuk hidup dan bertahan hidup (hewan), sehingga manusia dapat mengenal dirinya sendiri, mengenal peradaban dan mengenal Tuhan yang harus disembah. Dengan rohnya, manusia mengenal roh-roh lain dan kegaiban, dan mengenal "Tuhan" atau "tuhan-tuhan", suatu pribadi agung yang berkuasa bukan hanya atas dirinya dan hidupnya, tetapi juga atas kehidupan seluruh alam, walaupun dalam niatan menyembah Tuhan manusia banyak jatuh ke jalan penyembahan yang salah.

Sudah menjadi kodrat bahwa manusia diciptakan Tuhan sebagai makluk duniawi yang dibekali dengan akal budi dan roh, sehingga bisa mengenal kegaiban, mengenal mistis. Dan itu berlaku untuk semua manusia, dimana pun mereka berada, bukan hanya di timur dan di barat, tetapi juga di belahan bumi utara, tengah dan selatan. Tetapi masing-masing fenomena gaib dan keyakinan mistisisme berbeda sifat dan wujudnya, sesuai tempat dan peradaban masing-masing manusia.

Termasuk juga kehidupan manusia di negara-negara maju, yang sebelum munculnya agama modern dan rasionalisasi berpikir manusia, mereka hidup dalam nuansa penuh mistis. Walaupun semua yang mistis tidak harus disembah, tetapi mereka bisa merasakannya dan meyakininya benar ada. Dan keyakinan itu menyertai kehidupan mereka sehari-hari, walaupun tidak selalu tampak di permukaan.

Berkembangnya pengaruh agama-agama modern telah merubah / menyetir sikap berpikir manusia tentang perlakuan manusia terhadap mahluk halus. Yang semula memperlakukan mahluk-mahluk halus dengan istimewa, kemudian menjadi menjauhinya. Bahkan hubungan antara manusia dengan mahluk halus seringkali dinyatakan sebagai sesuatu yang "haram". Ajaran agama-agama modern tidak menghapuskan kepercayaan terhadap sesuatu yang gaib, hanya dibelokkan saja. Yang semula manusia mengagungkan mahluk-mahluk halus dan segala sesuatu yang gaib, kemudian dinyatakan dilarang, tetapi kemudian diharuskan mengagungkan "Tuhan",  sesuatu yang juga gaib, yang diyakini ada, yang diyakini sebagai penguasa alam dan kehidupan, yang diyakini tidak hanya berkuasa atas hidup manusia, tetapi juga berkuasa atas seluruh mahluk gaib.

Berkembangnya rasionalisasi berpikir manusia adalah yang paling banyak merubah sikap berpikir manusia mengenai hal-hal gaib. Walaupun dalam hati kecilnya mereka tetap meyakini adanya gaib, tetapi dalam kesehariannya mereka tidak mau berhubungan dengan hal-hal gaib. Memikirkannya saja tidak. Segala sesuatu harus dapat dibuktikan secara rasional. Kalau tidak dapat dibuktikan secara rasional, berarti itu hanya tahayul / mitos. Mereka tidak mau hidup dalam dunia tahayul. Mereka memilih hidup mengandalkan kemampuan manusia, mengandalkan kemampuan berpikir manusia yang rasional. Kehidupan dan masa depan ada di tangan manusia, tidak mau lagi hidup dalam mitos dan tahayul.


Kehidupan berkebatinan orang Jawa yang masih memelihara rasa dan batin, mendorong mereka untuk hidup penuh mistis, penuh dengan kepercayaan tentang hal-hal gaib dan mahluk halus. Walaupun bukan berarti menyembah mahluk halus, tetapi mereka percaya bahwa mahluk halus benar ada dan mereka menghormati itu.

Mereka terbiasa hidup sederhana dan apapun yang mereka miliki akan mereka syukuri sebagai karunia Allah. Mereka percaya adanya 'berkah' dari roh-roh, alam dan Tuhan, dan kehidupan mereka akan lebih baik bila mereka 'keberkahan'.  Karena itu dalam budaya Jawa dikenal adanya upaya untuk selalu menjaga perilaku, kebersihan hati dan batin dan ditambah dengan laku prihatin dan tirakat supaya hidup mereka diberkahi. Melakukan pemberian sesaji, ritual bersih desa, ruwatan sengkolo, syukuran, selametan, dsb, sudah menjadi tradisi sehari-hari yang dilakukan supaya hidup manusia keberkahan dan lancar dalam segala urusan.

Secara kebatinan dan spiritual, mereka percaya bahwa kehidupan manusia di alam ini hanyalah sementara, yang pada akhirnya nanti akan kembali lagi kepada Sang Pencipta. Manusia, bila hanya sendiri dan dengan kekuatannya sendiri, adalah bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, lemah dan fana. Karena itulah manusia harus bersandar pada kekuatan dan kekuasaan yang lebih tinggi (roh-roh dan Tuhan), beradaptasi dengan lingkungan alam yang merupakan rahmat dari Tuhan dan memeliharanya, bukan melawannya, apalagi merusaknya. Kepercayaan kepada roh-roh dan Tuhan ini seringkali dikonotasikan sebagai kepercayaan animisme dan dinamisme, yang kontras dengan ajaran agama.

Kehidupan kebatinan dan spiritual masyarakat Jawa itu dilandasi oleh kesadaran-kesadaran :
- Kesadaran adanya Tuhan, sebagai pencipta dan penguasa alam semesta.
- Kesadaran adanya hubungan antara manusia dengan alam dan seluruh isinya.
- Kesadaran kebersamaan sebagai sesama mahluk hidup ciptaan Tuhan, yang melandasi hubungan antar
  sesama manusia dan hubungan manusia dengan mahluk lain yang nyata maupun yang tidak tampak mata.

Kesadaran-kesadaran tersebut merupakan landasan utama dalam ’kawruh kejawen’ dan mengisi hidupnya orang Jawa, menjadi budaya Jawa yang mencakup kepercayaan dan spiritualisme, falsafah hidup, tradisi dan laku budaya, sistem organisasi kemasyarakatan yang kekeluargaan, bahasa dan aksara, dan seni budaya.

Mistisisme berbeda dengan klenik. Klenik berhubungan dengan praktek / perbuatan yang berhubungan dengan kegaiban atau praktek yang menciptakan kejadian gaib, yang bukan kejadian biasa, bukan kejadian yang alami. Istilah klenik berhubungan dengan ilmu gaib / khodam dan sihir atau praktek perdukunan. Dan mistisisme dalam kehidupan orang Jawa tidak dapat secara langsung disamakan dengan perilaku klenik, karena sekalipun percaya dengan hal-hal gaib, tetapi tidak semuanya menjalankan perbuatan klenik. Dan klenik ini tidak hanya ada di Jawa, tetapi juga ada di tempat-tempat dan negara-negara lain di belahan bumi manapun, dan bisa dilakukan oleh semua orang, termasuk oleh orang-orang yang agamis.



-------------------------


                 www.nur-maunah.blogspot.com


Silakan kirimkan via email ke: hikmatul.ilmi@gmail.com untuk menyampaikan pendapat / komentar dan cerita-cerita atau pengalaman anda untuk dapat dimuat di forum ini.

Kebatinan dan Agama

Kontroversi Kebatinan dan Agama



Dalam kehidupan manusia di negara maju dan berkehidupan modern, agama dan kebatinan merupakan hal yang bersifat pribadi dan perbedaan-perbedaan pandang di dalamnya tidak dipermasalahkan selama tidak menyentuh langsung privacy mereka. Mereka menekankan pada kehidupan yang rasional dan tidak mempermasalahkan kehidupan religi dan kepercayaan seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka tidak membawa-bawa urusan agama atau urusan pribadi lainnya, tetapi lebih menekankan kepentingan bersama dan kemampuan manusia sendiri untuk mengatur dan mengusahakan jalan hidupnya sendiri. Jati diri dan kepribadian mereka sudah mapan.
Tetapi di Indonesia, kepribadian masyarakatnya masih labil. Kepribadian masyarakatnya campur aduk. Sebagian masyarakatnya masih hidup dengan memelihara budaya lama. Agama dan kebatinan merupakan bagian hidupnya. Sebagian lagi menggantikan kehidupan budaya lama dengan kehidupan yang agamis dan seringkali "memaksakan" agamanya kepada orang lain. Sebagian lagi berusaha untuk hidup rasional, tidak terkekang dalam urusan fanatisme agama. Sebagian lagi tidak peduli dengan urusan agama ataupun budaya, hidup sesuai prinsip hidupnya sendiri.
Banyak pandangan yang mengatakan bahwa kebatinan adalah aliran kepercayaan di Indonesia yang tidak termasuk sebagai agama yang diakui seperti Islam, Kristen, Katolik, Budha dan Hindu. Ini adalah persepsi yang dangkal dan keliru, karena orang hanya memandang secara harfiah saja, kebatinan tidak sesempit itu maknanya, tetapi lebih dalam dan luas. Kebatinan memiliki banyak makna dan definisi, tergantung dari sudut mana kita memandang.
Jika kebatinan hanya dipandang secara harfiahnya saja, hanya dipandang dari sisi bentuk formalnya saja, maka manusia telah memandang kebatinan secara dangkal. Seharusnya manusia bisa berpikir dan bersikap lebih kritis, jangan segala sesuatu hanya dipandang secara dangkal, jangan hanya dari kulitnya saja. Manusia harus belajar memandang dari sisi hakekatnya, arti dan maknanya.
Kebatinan tidak hanya terkait dengan keilmuan kebatinan, atau ketuhanan dan aliran kepercayaan, tetapi bersifat universal, berkaitan dengan segala sesuatu yang dirasakan manusia pada batin yang paling dalam. Kebatinan melandasi kehidupan manusia sehari-hari. Di dalam kebatinan masing-masing manusia terkandung keyakinan dan kepercayaan pribadi, pandangan dan pendapat pribadi, prinsip dan sikap hidup pribadi, yang semuanya itu menjadi bagian dari kepribadian seseorang dan juga tercermin dan melandasi perbuatan dan perilakunya sehari-hari.
Di dalam hidup berkebatinan ada laku-laku dan ritual yang dilakukan manusia, seperti laku dan ritual ibadah keagamaan, atau laku-laku dalam kepercayaan dan tradisi seperti dalam budaya dan kepercayaan kejawen, ataupun laku-laku pribadi sesuai kebatinan masing-masing pribadi. Tetapi kebatinan tidak selalu harus ditunjukkan dengan laku-laku tertentu yang kelihatan mata, karena kebatinan terutama berisi sikap hati dan pandangan-pandangan pribadi yang semuanya tidak selalu diwujudkan dengan laku dan ritual yang kelihatan mata. Termasuk cara hidup rasional orang di negara modern, itu adalah sikap kebatinan mereka dalam hidup mereka sehari-hari.
Kebatinan adalah sesuatu yang dirasakan manusia pada batin yang paling dalam, dan terjadi pada siapa saja, termasuk pada orang-orang yang sangat tekun beribadah dan murni dalam agamanya, karena setiap agama pun mengajarkan juga tentang apa yang dirasakan hati dan batin, mengajarkan untuk selalu membersihkan hati, bagaimana harus berpikir dan bersikap, dsb. Dalam masing-masing firman dan sabda terkandung makna kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Bahkan panggilan yang dirasakan seseorang untuk beribadah, itu juga batin. Dan dalam batin itu tersimpan sebuah kekuatan yang besar jika dilatih dan diolah. Kekuatan batin menjadi kekuatan hati dalam menjalani hidup dan memperkuat keimanan seseorang.
Sebagian besar pemahaman kebatinan dan aliran kebatinan yang ada (di seluruh dunia) adalah bersifat kerohanian dan keagamaan, berisi upaya penghayatan kepercayaan manusia terhadap Tuhan (Roh Agung Alam Semesta) dengan cara pemahaman mereka masing-masing. Tujuan tertinggi penghayatan kebatinan mereka adalah untuk mencapai kesatuan dan keselarasan dengan pribadi tertinggi (Tuhan). Oleh sebab itu penganut golongan kebatinan berusaha mencapai tujuan utamanya, yaitu menyatu dengan Tuhan, menyelaraskan jiwa manusia dengan Tuhan, melalui olah batin, laku rohani dan keprihatinan, menjauhi kenikmatan hidup keduniawian, dan menyelaraskan hidup mereka dengan sifat-sifat Tuhan. 
Jika kebatinan dipandang secara hakekatnya, sesuai arti dan maknanya seperti disebut di atas, maka yang selama ini disebut sebagai aliran-aliran agama, sekte-sekte, aliran kepercayaan, dsb, adalah bentuk-bentuk formal dari paham kebatinan ketuhanan, yang masing-masing memiliki pemahaman kebatinan sendiri-sendiri dan berbeda satu dengan lainnya, walaupun masih bagian dari suatu agama. Masing-masing paham di dalam suatu agama akan berbeda dengan paham di dalam agama yang lain, apalagi jika memperbandingkan suatu paham agama dengan paham aliran kepercayaan yang bukan agama, ya sudah pasti berbeda.
Perilaku kebatinan (misalnya kejawen) yang dilakukan oleh seseorang yang beragama, seringkali memang dipertentangkan orang, dianggap bertentangan dengan agama, atau juga dianggap sebagai aliran / ajaran yang bisa merusak keimanan seseorang. Padahal, penghayatan kebatinan pada dasarnya adalah pemahaman dan penghayatan kepercayaan manusia terhadap Tuhan. Penghayatan keTuhanan itu bukanlah agama, tetapi seseorang beragama yang menjalaninya, justru bisa mendapatkan pemahaman yang dalam tentang agamanya dan Tuhan setelah mempelajari kebatinan tersebut, dan seseorang bisa mendapatkan pencerahan tentang agamanya, walaupun pencerahan itu didapatkannya dari luar agamanya.
Seringkali orang memandang istilah kebatinan secara dangkal dan mempertentangkannya dengan agama. Padahal pengertian kebatinan ini bersifat luas. Kebatinan terutama berisi pengimanan / penghayatan seseorang terhadap apa yang dirasakannya di dalam batinnya, apapun agama atau kepercayaannya, dan di dalam masing-masing agama dan kepercayaan juga terkandung suatu kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Dalam masing-masing firman dan sabda terkandung makna kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Tetapi sikap kebatinan keagamaan ini sudah banyak yang meninggalkannya, digantikan dengan ajaran tata ibadah saja atau dogma dan doktrin ke-Aku-an agama. Orang lebih memilih menjalani kehidupan formal agamis dan hanya menjalankan sisi peribadatan yang bersifat formal dan wajib saja. Sisi kebatinan dari agamanya seringkali tidak ditekuni.
Walaupun pengertian kebatinan bersifat luas, tetapi dunia kebatinan pada masa sekarang memang sudah termasuk "haram" untuk diperbincangkan, karena orang berpandangan sempit dan dangkal tentang kebatinan. Kebatinan dalam berkeagamaan saja jarang yang menekuni, karena orang lebih suka menjalani yang bersifat formal saja. Sekalipun banyak orang hafal dan fasih ayat-ayat suci, tetapi tidak banyak yang mengerti sisi kebatinan dan spiritualnya, sehingga pengkultusan dan dogma dalam kehidupan beragama sangat mendominasi kehidupan beragama, akibatnya banyak sekali terjadi perbedaan pandang dan pertentangan di kalangan mereka sendiri. Banyaknya aliran dalam suatu agama adalah bentuk dari ketidak-seragaman kebatinan dan spiritual dari para penganut agama itu sendiri.
Perilaku kebatinan (termasuk kebatinan agama), apapun agama dan kepercayaannya, baik sekali dilakukan, supaya seseorang mengerti betul ajaran yang dianutnya, supaya tidak dangkal pemahamannya, apalagi hanya ikut-ikutan saja, tetapi materinya harus diperhatikan dan di"filter", memiliki kebijaksanaan untuk memilih yang baik dan membuang yang tidak baik, sehingga kemudian dapat menjadi pribadi yang mengerti agama dan kepercayaannya dengan benar dan mendalam, tidak mudah dibodohi, dihasut, atau diperdaya (ditunggangi / diperalat).
Tetapi pada jaman sekarang sudah banyak terjadi "pendangkalan". Ajaran kebatinan dalam agama sudah digantikan dengan ajaran tata ibadah saja. Keimanan juga dipandang secara dangkal, hanya diukur dari kerajinan ibadah saja. Padahal manusia dinilai bukan hanya dari amal atau ibadahnya saja, tetapi dari akhlaknya, sedangkan perbuatan amal dan ibadah hanyalah sebagian dari akhlak. 
Pemahaman kemuliaan dalam agama pun banyak digantikan dengan dogma dan doktrin ke-Aku-an agama. Banyak kotbah yang berisi ajaran dan aturan-aturan keagamaan, formalitas keagamaan, kewajiban beribadah, dogma dan doktrin amal dan dosa, surga dan neraka, tetapi tidak mengedepankan ajaran budi pekerti, bahkan banyak yang menghasut, memfitnah, menghalalkan segala cara asalkan tujuan "keagamaan" mereka terlaksana. Itulah sebabnya banyak orang yang hidupnya sangat agamis dan fanatis, ternyata perilakunya tidak berbudi pekerti dan jauh dari perilaku mulia, malah banyak yang menjadi musuh kemanusiaan. Akibatnya, banyak orang beragama yang sehari-harinya perilakunya tidak menunjukkan budi pekerti yang baik, karena menganggap urusan agama dan keimanan hanya terkait dengan perbuatan amal, ibadah, pahala dan dosa, dan menganggap budi pekerti hanyalah masalah tradisi sopan santun dan tata krama dalam pergaulan, menganggap budi pekerti hanyalah masalah duniawi yang tidak berhubungan dengan agama. 
Jika anda kerap mencuri ayam tetangga, walaupun rajin beribadah, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?
Jika anda kerap mencuri uang kantor, walaupun anda rajin beribadah, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?
Jika anda kerap memarahi dan mengucapkan sumpah serapah kepada anak / istri / suami, walaupun anda rajin beribadah, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?  Seharusnya kita bisa membedakan perbuatan memarahi yang bertujuan menyadarkan dan mendidik, dengan perbuatan mengumbar kemarahan dan kebencian.
Jika anda kerap liar di jalan raya, melanggar aturan lalu-lintas, menerobos lampu merah, menyerobot / potong-memotong jalan orang, anda bisa lewat tetapi menambah kemacetan jalan raya, walaupun anda rajin beribadah, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?
Jika anda kerap menekan upah pekerja anda, sehingga anda bisa mendapatkan hasil usaha yang lebih banyak, walaupun anda rajin beribadah, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?
Jika anda kerap tidak membayar pajak, menggelapkan pajak, atau menipu perhitungan pajak, sehingga anda dapat menghemat pengeluaran, walaupun anda rajin beribadah, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?
Manusia tidak menyadari bahwa budi pekerti adalah dasar dari akhlak yang mulia, dasar dari perilaku manusia yang telah mengenal agama dan Tuhan. Semua perintah Tuhan, dalam agama apapun, selalu berkenaan dengan aturan budi pekerti yang harus dilakukan manusia dalam hidupnya sebagai manusia yang telah mengenal iman dan Tuhan. Larangan berbuat dosa, larangan menyalahi orang lain, larangan memfitnah, larangan berdusta, larangan mencuri, larangan membunuh, larangan menganiaya, larangan bersikap tamak, larangan menguntungkan diri sendiri dengan merugikan orang lain, perintah beribadah, perintah menolong orang lain, perintah menjaga kesucian hati dan kesucian perbuatan, dsb, adalah perintah-perintah budi pekerti sebagai dasar dari akhlak yang mulia. Tidak ada perintah Tuhan yang bertentangan dengan ajaran budi pekerti.
Perilaku berbudi pekerti, yang diterapkan dengan mematuhi aturan dan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, adalah dasar dari kemampuan sebuah bangsa dan negara untuk meningkatkan kualitas peradabannya. Peradaban yang berisi manusia-manusia liar tidak berbudi pekerti, yang hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri, tidak akan mampu meningkatkan kualitas peradabannya menjadi lebih maju dan modern, dan akan banyak bergantung pada peranan bangsa lain yang membantu meningkatkan kualitas peradabannya.

Sejak munculnya agama, manusia terkotak-kotak menjadi kelompok-kelompok yang membenarkan kelompoknya sendiri dan menyalahkan / merendahkan kelompok yang lain, termasuk antar kelompok manusia dalam agama yang sama. Keberadaan agama telah gagal total untuk bisa menggabungkan semua umat manusia dalam suasana rukun dan damai. Jangankan damai antar penganut agama yang berbeda, antar kelompok atau ‘aliran’ dalam satu agama yang sama pun tidak.
Tidak ada jaminan bahwa rakyat akan hidup dengan aman dan damai ketika negara sudah menjadi sebuah negara agama dan rakyatnya sudah menganut satu agama yang sama. Dari dulu sampai sekarang sejarah dunia sudah membuktikan !  Selalu saja ada perebutan kekuasaan, penindasan dan pembunuhan. Agama, walaupun sudah satu agama, tidak bisa meredam perilaku orang-orang yang berambisi pada kekuasaan dan kekayaan. Agama hanya dijadikan tunggangan untuk menuju kekuasaan dan dijadikan alat menciptakan dogma dan doktrin untuk menghakimi orang lain dan lawan-lawan politik. Bahkan lebih buruk lagi, karena agama dan dengan dalih dan nama agama, hati manusia menjadi penuh kebencian, manusia menganiaya dan membunuhi manusia lainnya !
Dan terhadap orang-orang yang berbeda agama, atau masih satu agama tetapi berbeda aliran, mengapa pula harus menghasut, menganiaya dan membunuhi orang lain yang berbeda pandangan dan keyakinan ?   Semua mahluk adalah ciptaan Tuhan dan semuanya ditempatkan di bumi untuk hidup bersama.  Apakah kita akan membunuhi semua mahluk ciptaanNya yang tidak sejalan dengan kita ?  Siapa yang memberi kita kuasa untuk membunuh ?   Tuhan ?   ataukah iblis di dalam diri kita sendiri ?   
Seorang anak yang ingin dikasihi oleh orang tuanya, haruslah dia bersikap berbakti, patuh dan dekat kepada orang tuanya, bukannya membunuhi anak-anak yang lain supaya dia kemudian menjadi anak orang tuanya satu-satunya. Apakah anda akan memuliakan seorang anak anda yang menindas dan membunuhi anak-anak anda yang lain karena berbeda pandangan dan karena dia ingin menjadi anak anda satu-satunya ?  Apakah kemudian anda akan berkata :  "Inilah anakku satu-satunya yang berbakti kepadaku" ?  Apakah anda setuju dengan perbuatannya yang membunuhi anak-anak anda yang lain ?  Siapakah yang memberinya kuasa untuk membunuh ?   Anda kah ?   ataukah iblis di dalam dirinya sendiri  ?   
Janganlah kita sombong dengan menganggap segala sesuatunya sudah benar karena kita sudah beragama, atau karena kita beribadah. Iblis hadir dimana-mana. Jangan kita termakan, atau malah menumbuh-suburkan sifat-sifat iblis dalam diri kita : kebencian dan tipu daya. Jangan hidup di bawah kungkungan sifat-sifat iblis. Bersihkanlah hidup kita dari sifat-sifat iblis, bersih lahir, hati dan batin. Jangan sampai terulang cerita jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa. Jangan juga terulang cerita Kain membunuh saudaranya Habil. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Tuhan, tetapi iblis tetap saja punya kesempatan untuk menyesatkan manusia. Jangan sampai karena kesombongan agama, kemudian kita malah menjadi bala tentara iblis di dunia. Jangan biarkan kuasa kegelapan menguasai kita.
Jangan mengkiblatkan agama dan iman kepada seseorang, karena kiblat iman dan agama adalah kepada Tuhan !
Agama hanya bermanfaat bagi orang-orang yang mau menerima, mengimani dan menjalankannya dengan benar. Dan adanya keberagaman kehidupan mahluk ciptaan Tuhan yang bermacam-macam itu justru menjadi ajang pembuktian apakah dalam kehidupan ini seseorang termasuk sebagai mahluk Tuhan yang mulia, berdasarkan keimanan, kepribadian, dan perilakunya, ataukah, walaupun beragama dan beribadah, tetapi termasuk sebagai mahluk liar dan berakhlak rendah yang tak berharga di mata Tuhan.
Mudah-mudahan ini bisa menjadi tambahan kebijaksanaan bagi kita, kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan. 
Tuhan tidak bisa diklaim sebagai milik seseorang atau segolongan orang, atau diklaim sebagai milik agama tertentu, apalagi sampai mengkafirkan atau menganiaya dan membunuhi orang lain.

Tuhan yang berkuasa atau semua mahluk ciptaanNya, bukan kita yang berkuasa memiliki atau menguasai Tuhan.
Tuhan tidak berada di bawah agama, justru agama diberikan supaya manusia dapat mengenal Tuhan.

Mengapa agama gagal total ?  

Sebenarnya kesalahannya tidak terletak pada agamanya, tetapi manusianya. Manusia yang berpikiran dangkal, yang menghayati dan mengamalkan agama hanya secara sempit. Manusia yang menjalankan agamanya hanya berdasarkan ajaran, dogma dan doktrin agama dan fanatisme sempit, ke-Aku-an beragama dan cinta diri, dan manusia-manusia yang memper-Tuhan-kan dirinya sendiri, yang menganggap pemikiran dan kata-katanya adalah kebenaran mutlak yang harus diikuti oleh orang lain dan akan mengatai orang lain sebagai murtad atau kafir jika tidak sejalan dengan kata-katanya, yang menghalalkan segala cara untuk berkuasa atas agama dan menunggangi agama untuk hasratnya berkuasa dan memaksakan kuasanya atas orang lain.
Hubungan manusia dengan Tuhan  tidak bisa dicapai dengan doktrinasi agama, atau menghafalkan dan mem-beo segala macam doa dan ayat, atau juga membunuhi manusia lain yang tidak sejalan. Dan segala macam laku ibadah yang kelihatan mata tidaklah dapat dijadikan ukuran keimanan seseorang. Keimanan seseorang harus terlihat dari akhlaknya yang baik dan dari perbuatannya yang juga baik, yang mencerminkan manusia yang berpribadi dan berakhlak mulia, yang mencerminkan hidup manusia yang telah mengenal Allah. Dengan demikian agama dan hubungan manusia dengan Tuhannya akan menjadi bersifat pribadi. Orang yang telah dalam pemahaman kebatinannya tentang agamanya akan menemukan bahwa agama adalah bersifat pribadi antara dirinya dengan Tuhan, sehingga agama tidak dapat dipaksakan kepada orang lain.
Kegagalan agama  terletak pada kegagalannya, melalui pemuka-pemuka agamanya, dalam membina kebatinan para pemeluknya. Kegagalan yang justru menjauhkan manusia dari sikap arif bijaksana dan berbudi luhur. Seringkali kegagalan itu juga menyebabkan para penganutnya menjadi munafik, selain karena adanya kekurangan yang tidak didapatkannya dari agamanya, mereka menutup-nutupi keberatannya atas segala aturan agama atau aturan-aturan dari pemuka agama yang membelenggunya, dan berusaha mempercantik diri supaya hal itu tidak tampak di hadapan orang lain, karena takut disebut kafir atau tidak beriman.
Bahkan karena adanya  ketidak-seragaman kebatinan  pada para penganut agama itu pula yang menyebabkan munculnya banyak aliran atau sekte di dalam suatu agama, dan masing-masing memiliki ke-Aku-an sendiri-sendiri, sehingga manusia terkotak-kotak menjadi kelompok-kelompok yang memuliakan kelompoknya sendiri dan menyalahkan / merendahkan, bahkan menghakimi kelompok yang lain, walaupun masih dalam lingkup agama yang sama.

Agama dan kebatinan sebenarnya memiliki keterkaitan yang kuat. Tetapi orang sering mencampur-adukan 2 hal tersebut yang seharusnya berbeda. Tidak hanya di dalam kelompok kebatinan, di dalam kehidupan beragama pun ada saja orang yang melakukan pencarian spiritual mengenai kebenaran sejati, kebenaran agama, kebenaran Tuhan, ataupun tentang aspek kebijaksanaan lain. Dalam prakteknya, agama adalah jalan menuju spiritual. Ada juga yang mendapatkan pencerahan dan memiliki pemahaman yang dalam atas agama setelah melakukan pencarian spiritual. Pencapaian spiritual itulah yang menentukan kedalaman pengetahuan dan kebijaksanaan keagamaan seseorang, tetapi jalan yang ditempuh untuk spiritualitas itulah yang seringkali dipertentangkan orang.
Apakah spiritual berada di luar lingkup agama ?
Apakah kita harus mendalami agama saja untuk memahami kebenaran Tuhan ?
Apakah agama adalah satu-satunya jalan untuk memahami kebenaran Tuhan ?
Bagaimana kita tahu kebenaran Tuhan kalau tidak memiliki kebijaksanaan spiritual ?
Bagaimana kita tahu kebenaran agama kalau tidak memiliki kebijaksanaan spiritual ?

Mengerti tentang kegaiban yang dialami manusia saja tidak mampu, bagaimana dapat mengerti dan mengenal Tuhan, yang sejatinya adalah sumber segala kegaiban. Itulah keterbatasan pikiran dan akal budi manusia. Karena itulah Allah membekali manusia dengan roh, supaya dengan rohnya manusia dapat mengerti kegaiban hidup dan mengenal Allah dan jalan yang benar menuju Allah, supaya manusia tidak hanya berkeras diri membela ajaran-ajaran dan dogma-doktrin yang membelenggu akal sehat, yang dia sendiri tidak mengetahui kebenarannya (bisanya hanya percaya saja pada ajaran agamanya), dan supaya manusia memiliki hikmat kebijaksanaan dalam dirinya tentang Allah dan kebenaranNya.
Seharusnya segala macam agama dan ibadah membawa manusia kepada akhlak yang mulia.
Itulah tujuan diberikannya agama kepada manusia, yaitu supaya manusia mengenal Tuhan-nya, tidak lagi hidup seperti manusia yang tidak mengenal Tuhan, dan untuk menjadi sarana dalam membina hubungan pribadi manusia dengan Tuhan-nya.

Agama itu pada dasarnya mengajar manusia untuk mengenal Tuhan (Gusti Allah).
Agama adalah jalan. 
Tujuannya adalah Tuhan.

Secara roh dan batinnya, manusia mengenal suatu Roh Agung yang disebut Tuhan. Tetapi manusia tidak dapat mengenal Tuhan secara langsung dan tidak dapat mencapai-Nya secara langsung, sehingga manusia tidak dapat mengenal Allah dengan benar. Manusia hanya bisa percaya saja, sesuai panggilan batinnya, dan sesuai ajaran dalam kepercayaan / agama. Sesuai panggilan batinnya manusia mencari Tuhan, tetapi karena ketidak-tahuan tentang Allah yang benar, maka banyak manusia yang jatuh ke dalam jalan penyembahan yang salah.

Semua suku dan semua kultur memiliki cara untuk mendekati Tuhannya.  Mengapa harus dipertentangkan ?
Tetapi karena manusia tidak dapat mengenal Tuhan secara langsung, karena ketidak-tahuan manusia tentang Allah yang benar, maka jalan yang ditempuh sendiri-sendiri, tidak sama.
Orang yang memahami agama dengan baik pasti toleran, karena sama-sama tidak tahu Allah yang benar (bisanya hanya percaya saja pada ajaran agamanya), tetapi sama-sama punya tujuan yang sama : Tuhan.

Tetapi seringkali manusia salah dalam memahami agama, seolah-olah agama adalah tujuan, sehingga banyak orang yang "memper-Tuhan-kan" agama. Seolah-olah jika sudah menganut suatu agama, maka tujuannya sudah tercapai dan kemudian memaksakan agamanya itu kepada orang lain dan meng-kafir-kan agama lain yang tidak sejalan.  Orang buta menuntun orang buta.

Banyak orang yang membuat agama menjadi tujuan, bukan menjadikan agama sebagai jalan mencapai Tuhan. Kesucian hati dan kepribadian yang mulia, yang menuntun dan mengarahkan manusia menjadi mahluk berakhlak mulia tidak diutamakan. Manusia lebih mengutamakan kehormatan diri, ke-Aku-an dan cinta diri, tidak memuliakan agama dan Tuhan. Akibatnya banyak orang yang memaksakan agamanya kepada orang lain, dan menghakimi agama yang lain sebagai sesat. Bahkan ada juga yang tidak mengutamakan kemuliaan, yang menghasut dan memfitnah agama dan kepercayaan lain untuk menjadikan agamanya banyak pengikutnya.



  Agamis vs Religius

Agamis dipahami sebagai sikap perilaku manusia yang menonjol sekali (terlihat) perilakunya sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya dan dalam kehidupannya sehari-hari tergambar juga kerajinannya dalam beribadah formal.

Pada kalangan agamis, mereka menjaga benar semua perilaku, perbuatan, ucapan dan penampilan, supaya sesuai dan tidak menyimpang dari ajaran agamanya dan banyak juga yang ucapan dan penampilannya mengikuti tradisi budaya dalam agamanya, sehingga walaupun hanya sekilas saja, orang lain akan dapat melihat / mengetahui keagamaannya.

Sebagian besar kalangan agamis secara psikologis menganggap bahwa agama adalah perwujudan dari Tuhan dan perintah-perintahNya, sehingga mereka akan melakukan apa saja untuk "memuliakan" agamanya.

Tetapi sayangnya ada sebagian dari kalangan agamis ini yang hanya mengedepankan sisi formal peribadatan dan menganggap keimanan hanya terkait dengan kerajinan beribadah formal dan pemenuhan kewajiban agama yang bersifat formal. Sebagian dari mereka tidak menjaga  "kesucian"  perbuatan-perbuatan mereka karena menganggap bahwa semua perbuatan jeleknya akan dapat "ditebus" dengan "pahala" dari kerajinan beribadah dan pemenuhan kewajiban formal.

Religius dipahami sebagai sikap perilaku manusia yang tidak menonjolkan perilaku agamis dan peribadatan formal, tetapi dalam kehidupannya sehari-hari mereka memegang teguh kepercayaannya dan menjaga kesucian perbuatan sesuai dengan kepercayaan yang mereka anut.

Kalangan religius memandang bahwa agama, ibadah, kepercayaan dan juga akhlak adalah masalah hati, batin, yang semuanya tidak harus tercermin dalam peribadatan formal dan perbuatan-perbuatan yang kelihatan mata. Mereka menganggap bahwa manusia tidak dinilai hanya dari amal atau ibadahnya saja, tetapi juga dari akhlaknya. Karena itu ibadah mereka tidak harus semua tercermin dalam peribadatan dan kepercayaan formal. Ibadah mereka yang sesungguhnya ada di dalam hati.

Kalangan religius tidak mengedepankan kehidupan agamis dan peribadatan formal dan perbuatan-perbuatan agamis lain yang kelihatan mata, tetapi lebih mengutamakan untuk memegang teguh kepercayaannya dan menjaga kelurusan perbuatan-perbuatan mereka sesuai kepercayaan yang mereka anut. Walaupun juga menjalankan peribadatan
formal, tetapi mereka memiliki ‘kebijaksanaan’ sendiri mengenai keTuhanan, yaitu kehidupan kepercayaan yang didasari pada kepercayaan ketuhanan dan nilai-nilai budi pekerti yang diajarkan dalam agamanya, yang semuanya menyatu di dalam hati menjadi kepercayaan yang bersifat pribadi, yang mengisi hidup mereka dan dijalankan sepenuh hati, walaupun sikap kepercayaannya itu tidak kelihatan di mata orang lain.


Itulah cerminan dari sikap kebatinan dan perilaku manusia yang terkait dengan kehidupan berkepercayaan dan beragama.
Sebagian orang lebih cenderung mengedepankan kehidupan yang agamis.
Sebagian lagi lebih cenderung mengedepankan kehidupan yang tidak agamis, tetapi mereka religius.
Sebagian lainnya membina kehidupan yang agamis dan religius.
Sebagian lainnya tidak mementingkan urusan agama dan religi, tetapi lebih mengedepankan kepentingan keduniawiannya.
Sebagian lainnya berperilaku munafik, sok suci, sok agamis, sok religius, karena sebenarnya mereka tidak agamis dan juga tidak religius, hanya supaya kelihatan baik saja di mata orang lain.


--------------------

              www.nur-maunah.blogspot.com


Silakan kirimkan via email ke: hikmatul.ilmi@gmail.com untuk menyampaikan pendapat / komentar dan cerita-cerita atau pengalaman anda untuk dapat dimuat di forum ini.

Kebatinan dan Agama

Kontroversi Kebatinan dan Agama



Dalam kehidupan manusia di negara maju dan berkehidupan modern, agama dan kebatinan merupakan hal yang bersifat pribadi dan perbedaan-perbedaan pandang di dalamnya tidak dipermasalahkan selama tidak menyentuh langsung privacy mereka. Mereka menekankan pada kehidupan yang rasional dan tidak mempermasalahkan kehidupan religi dan kepercayaan seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka tidak membawa-bawa urusan agama atau urusan pribadi lainnya, tetapi lebih menekankan kepentingan bersama dan kemampuan manusia sendiri untuk mengatur dan mengusahakan jalan hidupnya sendiri. Jati diri dan kepribadian mereka sudah mapan.
Tetapi di Indonesia, kepribadian masyarakatnya masih labil. Kepribadian masyarakatnya campur aduk. Sebagian masyarakatnya masih hidup dengan memelihara budaya lama. Agama dan kebatinan merupakan bagian hidupnya. Sebagian lagi menggantikan kehidupan budaya lama dengan kehidupan yang agamis dan seringkali "memaksakan" agamanya kepada orang lain. Sebagian lagi berusaha untuk hidup rasional, tidak terkekang dalam urusan fanatisme agama. Sebagian lagi tidak peduli dengan urusan agama ataupun budaya, hidup sesuai prinsip hidupnya sendiri.
Banyak pandangan yang mengatakan bahwa kebatinan adalah aliran kepercayaan di Indonesia yang tidak termasuk sebagai agama yang diakui seperti Islam, Kristen, Katolik, Budha dan Hindu. Ini adalah persepsi yang dangkal dan keliru, karena orang hanya memandang secara harfiah saja, kebatinan tidak sesempit itu maknanya, tetapi lebih dalam dan luas. Kebatinan memiliki banyak makna dan definisi, tergantung dari sudut mana kita memandang.
Jika kebatinan hanya dipandang secara harfiahnya saja, hanya dipandang dari sisi bentuk formalnya saja, maka manusia telah memandang kebatinan secara dangkal. Seharusnya manusia bisa berpikir dan bersikap lebih kritis, jangan segala sesuatu hanya dipandang secara dangkal, jangan hanya dari kulitnya saja. Manusia harus belajar memandang dari sisi hakekatnya, arti dan maknanya.
Kebatinan tidak hanya terkait dengan keilmuan kebatinan, atau ketuhanan dan aliran kepercayaan, tetapi bersifat universal, berkaitan dengan segala sesuatu yang dirasakan manusia pada batin yang paling dalam. Kebatinan melandasi kehidupan manusia sehari-hari. Di dalam kebatinan masing-masing manusia terkandung keyakinan dan kepercayaan pribadi, pandangan dan pendapat pribadi, prinsip dan sikap hidup pribadi, yang semuanya itu menjadi bagian dari kepribadian seseorang dan juga tercermin dan melandasi perbuatan dan perilakunya sehari-hari.
Di dalam hidup berkebatinan ada laku-laku dan ritual yang dilakukan manusia, seperti laku dan ritual ibadah keagamaan, atau laku-laku dalam kepercayaan dan tradisi seperti dalam budaya dan kepercayaan kejawen, ataupun laku-laku pribadi sesuai kebatinan masing-masing pribadi. Tetapi kebatinan tidak selalu harus ditunjukkan dengan laku-laku tertentu yang kelihatan mata, karena kebatinan terutama berisi sikap hati dan pandangan-pandangan pribadi yang semuanya tidak selalu diwujudkan dengan laku dan ritual yang kelihatan mata. Termasuk cara hidup rasional orang di negara modern, itu adalah sikap kebatinan mereka dalam hidup mereka sehari-hari.
Kebatinan adalah sesuatu yang dirasakan manusia pada batin yang paling dalam, dan terjadi pada siapa saja, termasuk pada orang-orang yang sangat tekun beribadah dan murni dalam agamanya, karena setiap agama pun mengajarkan juga tentang apa yang dirasakan hati dan batin, mengajarkan untuk selalu membersihkan hati, bagaimana harus berpikir dan bersikap, dsb. Dalam masing-masing firman dan sabda terkandung makna kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Bahkan panggilan yang dirasakan seseorang untuk beribadah, itu juga batin. Dan dalam batin itu tersimpan sebuah kekuatan yang besar jika dilatih dan diolah. Kekuatan batin menjadi kekuatan hati dalam menjalani hidup dan memperkuat keimanan seseorang.
Sebagian besar pemahaman kebatinan dan aliran kebatinan yang ada (di seluruh dunia) adalah bersifat kerohanian dan keagamaan, berisi upaya penghayatan kepercayaan manusia terhadap Tuhan (Roh Agung Alam Semesta) dengan cara pemahaman mereka masing-masing. Tujuan tertinggi penghayatan kebatinan mereka adalah untuk mencapai kesatuan dan keselarasan dengan pribadi tertinggi (Tuhan). Oleh sebab itu penganut golongan kebatinan berusaha mencapai tujuan utamanya, yaitu menyatu dengan Tuhan, menyelaraskan jiwa manusia dengan Tuhan, melalui olah batin, laku rohani dan keprihatinan, menjauhi kenikmatan hidup keduniawian, dan menyelaraskan hidup mereka dengan sifat-sifat Tuhan. 
Jika kebatinan dipandang secara hakekatnya, sesuai arti dan maknanya seperti disebut di atas, maka yang selama ini disebut sebagai aliran-aliran agama, sekte-sekte, aliran kepercayaan, dsb, adalah bentuk-bentuk formal dari paham kebatinan ketuhanan, yang masing-masing memiliki pemahaman kebatinan sendiri-sendiri dan berbeda satu dengan lainnya, walaupun masih bagian dari suatu agama. Masing-masing paham di dalam suatu agama akan berbeda dengan paham di dalam agama yang lain, apalagi jika memperbandingkan suatu paham agama dengan paham aliran kepercayaan yang bukan agama, ya sudah pasti berbeda.
Perilaku kebatinan (misalnya kejawen) yang dilakukan oleh seseorang yang beragama, seringkali memang dipertentangkan orang, dianggap bertentangan dengan agama, atau juga dianggap sebagai aliran / ajaran yang bisa merusak keimanan seseorang. Padahal, penghayatan kebatinan pada dasarnya adalah pemahaman dan penghayatan kepercayaan manusia terhadap Tuhan. Penghayatan keTuhanan itu bukanlah agama, tetapi seseorang beragama yang menjalaninya, justru bisa mendapatkan pemahaman yang dalam tentang agamanya dan Tuhan setelah mempelajari kebatinan tersebut, dan seseorang bisa mendapatkan pencerahan tentang agamanya, walaupun pencerahan itu didapatkannya dari luar agamanya.
Seringkali orang memandang istilah kebatinan secara dangkal dan mempertentangkannya dengan agama. Padahal pengertian kebatinan ini bersifat luas. Kebatinan terutama berisi pengimanan / penghayatan seseorang terhadap apa yang dirasakannya di dalam batinnya, apapun agama atau kepercayaannya, dan di dalam masing-masing agama dan kepercayaan juga terkandung suatu kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Dalam masing-masing firman dan sabda terkandung makna kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Tetapi sikap kebatinan keagamaan ini sudah banyak yang meninggalkannya, digantikan dengan ajaran tata ibadah saja atau dogma dan doktrin ke-Aku-an agama. Orang lebih memilih menjalani kehidupan formal agamis dan hanya menjalankan sisi peribadatan yang bersifat formal dan wajib saja. Sisi kebatinan dari agamanya seringkali tidak ditekuni.
Walaupun pengertian kebatinan bersifat luas, tetapi dunia kebatinan pada masa sekarang memang sudah termasuk "haram" untuk diperbincangkan, karena orang berpandangan sempit dan dangkal tentang kebatinan. Kebatinan dalam berkeagamaan saja jarang yang menekuni, karena orang lebih suka menjalani yang bersifat formal saja. Sekalipun banyak orang hafal dan fasih ayat-ayat suci, tetapi tidak banyak yang mengerti sisi kebatinan dan spiritualnya, sehingga pengkultusan dan dogma dalam kehidupan beragama sangat mendominasi kehidupan beragama, akibatnya banyak sekali terjadi perbedaan pandang dan pertentangan di kalangan mereka sendiri. Banyaknya aliran dalam suatu agama adalah bentuk dari ketidak-seragaman kebatinan dan spiritual dari para penganut agama itu sendiri.
Perilaku kebatinan (termasuk kebatinan agama), apapun agama dan kepercayaannya, baik sekali dilakukan, supaya seseorang mengerti betul ajaran yang dianutnya, supaya tidak dangkal pemahamannya, apalagi hanya ikut-ikutan saja, tetapi materinya harus diperhatikan dan di"filter", memiliki kebijaksanaan untuk memilih yang baik dan membuang yang tidak baik, sehingga kemudian dapat menjadi pribadi yang mengerti agama dan kepercayaannya dengan benar dan mendalam, tidak mudah dibodohi, dihasut, atau diperdaya (ditunggangi / diperalat).
Tetapi pada jaman sekarang sudah banyak terjadi "pendangkalan". Ajaran kebatinan dalam agama sudah digantikan dengan ajaran tata ibadah saja. Keimanan juga dipandang secara dangkal, hanya diukur dari kerajinan ibadah saja. Padahal manusia dinilai bukan hanya dari amal atau ibadahnya saja, tetapi dari akhlaknya, sedangkan perbuatan amal dan ibadah hanyalah sebagian dari akhlak. 
Pemahaman kemuliaan dalam agama pun banyak digantikan dengan dogma dan doktrin ke-Aku-an agama. Banyak kotbah yang berisi ajaran dan aturan-aturan keagamaan, formalitas keagamaan, kewajiban beribadah, dogma dan doktrin amal dan dosa, surga dan neraka, tetapi tidak mengedepankan ajaran budi pekerti, bahkan banyak yang menghasut, memfitnah, menghalalkan segala cara asalkan tujuan "keagamaan" mereka terlaksana. Itulah sebabnya banyak orang yang hidupnya sangat agamis dan fanatis, ternyata perilakunya tidak berbudi pekerti dan jauh dari perilaku mulia, malah banyak yang menjadi musuh kemanusiaan. Akibatnya, banyak orang beragama yang sehari-harinya perilakunya tidak menunjukkan budi pekerti yang baik, karena menganggap urusan agama dan keimanan hanya terkait dengan perbuatan amal, ibadah, pahala dan dosa, dan menganggap budi pekerti hanyalah masalah tradisi sopan santun dan tata krama dalam pergaulan, menganggap budi pekerti hanyalah masalah duniawi yang tidak berhubungan dengan agama. 
Jika anda kerap mencuri ayam tetangga, walaupun rajin beribadah, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?
Jika anda kerap mencuri uang kantor, walaupun anda rajin beribadah, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?
Jika anda kerap memarahi dan mengucapkan sumpah serapah kepada anak / istri / suami, walaupun anda rajin beribadah, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?  Seharusnya kita bisa membedakan perbuatan memarahi yang bertujuan menyadarkan dan mendidik, dengan perbuatan mengumbar kemarahan dan kebencian.
Jika anda kerap liar di jalan raya, melanggar aturan lalu-lintas, menerobos lampu merah, menyerobot / potong-memotong jalan orang, anda bisa lewat tetapi menambah kemacetan jalan raya, walaupun anda rajin beribadah, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?
Jika anda kerap menekan upah pekerja anda, sehingga anda bisa mendapatkan hasil usaha yang lebih banyak, walaupun anda rajin beribadah, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?
Jika anda kerap tidak membayar pajak, menggelapkan pajak, atau menipu perhitungan pajak, sehingga anda dapat menghemat pengeluaran, walaupun anda rajin beribadah, apakah anda merasa diri anda berakhlak baik ?
Manusia tidak menyadari bahwa budi pekerti adalah dasar dari akhlak yang mulia, dasar dari perilaku manusia yang telah mengenal agama dan Tuhan. Semua perintah Tuhan, dalam agama apapun, selalu berkenaan dengan aturan budi pekerti yang harus dilakukan manusia dalam hidupnya sebagai manusia yang telah mengenal iman dan Tuhan. Larangan berbuat dosa, larangan menyalahi orang lain, larangan memfitnah, larangan berdusta, larangan mencuri, larangan membunuh, larangan menganiaya, larangan bersikap tamak, larangan menguntungkan diri sendiri dengan merugikan orang lain, perintah beribadah, perintah menolong orang lain, perintah menjaga kesucian hati dan kesucian perbuatan, dsb, adalah perintah-perintah budi pekerti sebagai dasar dari akhlak yang mulia. Tidak ada perintah Tuhan yang bertentangan dengan ajaran budi pekerti.
Perilaku berbudi pekerti, yang diterapkan dengan mematuhi aturan dan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, adalah dasar dari kemampuan sebuah bangsa dan negara untuk meningkatkan kualitas peradabannya. Peradaban yang berisi manusia-manusia liar tidak berbudi pekerti, yang hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri, tidak akan mampu meningkatkan kualitas peradabannya menjadi lebih maju dan modern, dan akan banyak bergantung pada peranan bangsa lain yang membantu meningkatkan kualitas peradabannya.

Sejak munculnya agama, manusia terkotak-kotak menjadi kelompok-kelompok yang membenarkan kelompoknya sendiri dan menyalahkan / merendahkan kelompok yang lain, termasuk antar kelompok manusia dalam agama yang sama. Keberadaan agama telah gagal total untuk bisa menggabungkan semua umat manusia dalam suasana rukun dan damai. Jangankan damai antar penganut agama yang berbeda, antar kelompok atau ‘aliran’ dalam satu agama yang sama pun tidak.
Tidak ada jaminan bahwa rakyat akan hidup dengan aman dan damai ketika negara sudah menjadi sebuah negara agama dan rakyatnya sudah menganut satu agama yang sama. Dari dulu sampai sekarang sejarah dunia sudah membuktikan !  Selalu saja ada perebutan kekuasaan, penindasan dan pembunuhan. Agama, walaupun sudah satu agama, tidak bisa meredam perilaku orang-orang yang berambisi pada kekuasaan dan kekayaan. Agama hanya dijadikan tunggangan untuk menuju kekuasaan dan dijadikan alat menciptakan dogma dan doktrin untuk menghakimi orang lain dan lawan-lawan politik. Bahkan lebih buruk lagi, karena agama dan dengan dalih dan nama agama, hati manusia menjadi penuh kebencian, manusia menganiaya dan membunuhi manusia lainnya !
Dan terhadap orang-orang yang berbeda agama, atau masih satu agama tetapi berbeda aliran, mengapa pula harus menghasut, menganiaya dan membunuhi orang lain yang berbeda pandangan dan keyakinan ?   Semua mahluk adalah ciptaan Tuhan dan semuanya ditempatkan di bumi untuk hidup bersama.  Apakah kita akan membunuhi semua mahluk ciptaanNya yang tidak sejalan dengan kita ?  Siapa yang memberi kita kuasa untuk membunuh ?   Tuhan ?   ataukah iblis di dalam diri kita sendiri ?   
Seorang anak yang ingin dikasihi oleh orang tuanya, haruslah dia bersikap berbakti, patuh dan dekat kepada orang tuanya, bukannya membunuhi anak-anak yang lain supaya dia kemudian menjadi anak orang tuanya satu-satunya. Apakah anda akan memuliakan seorang anak anda yang menindas dan membunuhi anak-anak anda yang lain karena berbeda pandangan dan karena dia ingin menjadi anak anda satu-satunya ?  Apakah kemudian anda akan berkata :  "Inilah anakku satu-satunya yang berbakti kepadaku" ?  Apakah anda setuju dengan perbuatannya yang membunuhi anak-anak anda yang lain ?  Siapakah yang memberinya kuasa untuk membunuh ?   Anda kah ?   ataukah iblis di dalam dirinya sendiri  ?   
Janganlah kita sombong dengan menganggap segala sesuatunya sudah benar karena kita sudah beragama, atau karena kita beribadah. Iblis hadir dimana-mana. Jangan kita termakan, atau malah menumbuh-suburkan sifat-sifat iblis dalam diri kita : kebencian dan tipu daya. Jangan hidup di bawah kungkungan sifat-sifat iblis. Bersihkanlah hidup kita dari sifat-sifat iblis, bersih lahir, hati dan batin. Jangan sampai terulang cerita jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa. Jangan juga terulang cerita Kain membunuh saudaranya Habil. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Tuhan, tetapi iblis tetap saja punya kesempatan untuk menyesatkan manusia. Jangan sampai karena kesombongan agama, kemudian kita malah menjadi bala tentara iblis di dunia. Jangan biarkan kuasa kegelapan menguasai kita.
Jangan mengkiblatkan agama dan iman kepada seseorang, karena kiblat iman dan agama adalah kepada Tuhan !
Agama hanya bermanfaat bagi orang-orang yang mau menerima, mengimani dan menjalankannya dengan benar. Dan adanya keberagaman kehidupan mahluk ciptaan Tuhan yang bermacam-macam itu justru menjadi ajang pembuktian apakah dalam kehidupan ini seseorang termasuk sebagai mahluk Tuhan yang mulia, berdasarkan keimanan, kepribadian, dan perilakunya, ataukah, walaupun beragama dan beribadah, tetapi termasuk sebagai mahluk liar dan berakhlak rendah yang tak berharga di mata Tuhan.
Mudah-mudahan ini bisa menjadi tambahan kebijaksanaan bagi kita, kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan. 
Tuhan tidak bisa diklaim sebagai milik seseorang atau segolongan orang, atau diklaim sebagai milik agama tertentu, apalagi sampai mengkafirkan atau menganiaya dan membunuhi orang lain.

Tuhan yang berkuasa atau semua mahluk ciptaanNya, bukan kita yang berkuasa memiliki atau menguasai Tuhan.
Tuhan tidak berada di bawah agama, justru agama diberikan supaya manusia dapat mengenal Tuhan.

Mengapa agama gagal total ?  

Sebenarnya kesalahannya tidak terletak pada agamanya, tetapi manusianya. Manusia yang berpikiran dangkal, yang menghayati dan mengamalkan agama hanya secara sempit. Manusia yang menjalankan agamanya hanya berdasarkan ajaran, dogma dan doktrin agama dan fanatisme sempit, ke-Aku-an beragama dan cinta diri, dan manusia-manusia yang memper-Tuhan-kan dirinya sendiri, yang menganggap pemikiran dan kata-katanya adalah kebenaran mutlak yang harus diikuti oleh orang lain dan akan mengatai orang lain sebagai murtad atau kafir jika tidak sejalan dengan kata-katanya, yang menghalalkan segala cara untuk berkuasa atas agama dan menunggangi agama untuk hasratnya berkuasa dan memaksakan kuasanya atas orang lain.
Hubungan manusia dengan Tuhan  tidak bisa dicapai dengan doktrinasi agama, atau menghafalkan dan mem-beo segala macam doa dan ayat, atau juga membunuhi manusia lain yang tidak sejalan. Dan segala macam laku ibadah yang kelihatan mata tidaklah dapat dijadikan ukuran keimanan seseorang. Keimanan seseorang harus terlihat dari akhlaknya yang baik dan dari perbuatannya yang juga baik, yang mencerminkan manusia yang berpribadi dan berakhlak mulia, yang mencerminkan hidup manusia yang telah mengenal Allah. Dengan demikian agama dan hubungan manusia dengan Tuhannya akan menjadi bersifat pribadi. Orang yang telah dalam pemahaman kebatinannya tentang agamanya akan menemukan bahwa agama adalah bersifat pribadi antara dirinya dengan Tuhan, sehingga agama tidak dapat dipaksakan kepada orang lain.
Kegagalan agama  terletak pada kegagalannya, melalui pemuka-pemuka agamanya, dalam membina kebatinan para pemeluknya. Kegagalan yang justru menjauhkan manusia dari sikap arif bijaksana dan berbudi luhur. Seringkali kegagalan itu juga menyebabkan para penganutnya menjadi munafik, selain karena adanya kekurangan yang tidak didapatkannya dari agamanya, mereka menutup-nutupi keberatannya atas segala aturan agama atau aturan-aturan dari pemuka agama yang membelenggunya, dan berusaha mempercantik diri supaya hal itu tidak tampak di hadapan orang lain, karena takut disebut kafir atau tidak beriman.
Bahkan karena adanya  ketidak-seragaman kebatinan  pada para penganut agama itu pula yang menyebabkan munculnya banyak aliran atau sekte di dalam suatu agama, dan masing-masing memiliki ke-Aku-an sendiri-sendiri, sehingga manusia terkotak-kotak menjadi kelompok-kelompok yang memuliakan kelompoknya sendiri dan menyalahkan / merendahkan, bahkan menghakimi kelompok yang lain, walaupun masih dalam lingkup agama yang sama.

Agama dan kebatinan sebenarnya memiliki keterkaitan yang kuat. Tetapi orang sering mencampur-adukan 2 hal tersebut yang seharusnya berbeda. Tidak hanya di dalam kelompok kebatinan, di dalam kehidupan beragama pun ada saja orang yang melakukan pencarian spiritual mengenai kebenaran sejati, kebenaran agama, kebenaran Tuhan, ataupun tentang aspek kebijaksanaan lain. Dalam prakteknya, agama adalah jalan menuju spiritual. Ada juga yang mendapatkan pencerahan dan memiliki pemahaman yang dalam atas agama setelah melakukan pencarian spiritual. Pencapaian spiritual itulah yang menentukan kedalaman pengetahuan dan kebijaksanaan keagamaan seseorang, tetapi jalan yang ditempuh untuk spiritualitas itulah yang seringkali dipertentangkan orang.
Apakah spiritual berada di luar lingkup agama ?
Apakah kita harus mendalami agama saja untuk memahami kebenaran Tuhan ?
Apakah agama adalah satu-satunya jalan untuk memahami kebenaran Tuhan ?
Bagaimana kita tahu kebenaran Tuhan kalau tidak memiliki kebijaksanaan spiritual ?
Bagaimana kita tahu kebenaran agama kalau tidak memiliki kebijaksanaan spiritual ?

Mengerti tentang kegaiban yang dialami manusia saja tidak mampu, bagaimana dapat mengerti dan mengenal Tuhan, yang sejatinya adalah sumber segala kegaiban. Itulah keterbatasan pikiran dan akal budi manusia. Karena itulah Allah membekali manusia dengan roh, supaya dengan rohnya manusia dapat mengerti kegaiban hidup dan mengenal Allah dan jalan yang benar menuju Allah, supaya manusia tidak hanya berkeras diri membela ajaran-ajaran dan dogma-doktrin yang membelenggu akal sehat, yang dia sendiri tidak mengetahui kebenarannya (bisanya hanya percaya saja pada ajaran agamanya), dan supaya manusia memiliki hikmat kebijaksanaan dalam dirinya tentang Allah dan kebenaranNya.
Seharusnya segala macam agama dan ibadah membawa manusia kepada akhlak yang mulia.
Itulah tujuan diberikannya agama kepada manusia, yaitu supaya manusia mengenal Tuhan-nya, tidak lagi hidup seperti manusia yang tidak mengenal Tuhan, dan untuk menjadi sarana dalam membina hubungan pribadi manusia dengan Tuhan-nya.

Agama itu pada dasarnya mengajar manusia untuk mengenal Tuhan (Gusti Allah).
Agama adalah jalan. 
Tujuannya adalah Tuhan.

Secara roh dan batinnya, manusia mengenal suatu Roh Agung yang disebut Tuhan. Tetapi manusia tidak dapat mengenal Tuhan secara langsung dan tidak dapat mencapai-Nya secara langsung, sehingga manusia tidak dapat mengenal Allah dengan benar. Manusia hanya bisa percaya saja, sesuai panggilan batinnya, dan sesuai ajaran dalam kepercayaan / agama. Sesuai panggilan batinnya manusia mencari Tuhan, tetapi karena ketidak-tahuan tentang Allah yang benar, maka banyak manusia yang jatuh ke dalam jalan penyembahan yang salah.

Semua suku dan semua kultur memiliki cara untuk mendekati Tuhannya.  Mengapa harus dipertentangkan ?
Tetapi karena manusia tidak dapat mengenal Tuhan secara langsung, karena ketidak-tahuan manusia tentang Allah yang benar, maka jalan yang ditempuh sendiri-sendiri, tidak sama.
Orang yang memahami agama dengan baik pasti toleran, karena sama-sama tidak tahu Allah yang benar (bisanya hanya percaya saja pada ajaran agamanya), tetapi sama-sama punya tujuan yang sama : Tuhan.

Tetapi seringkali manusia salah dalam memahami agama, seolah-olah agama adalah tujuan, sehingga banyak orang yang "memper-Tuhan-kan" agama. Seolah-olah jika sudah menganut suatu agama, maka tujuannya sudah tercapai dan kemudian memaksakan agamanya itu kepada orang lain dan meng-kafir-kan agama lain yang tidak sejalan.  Orang buta menuntun orang buta.

Banyak orang yang membuat agama menjadi tujuan, bukan menjadikan agama sebagai jalan mencapai Tuhan. Kesucian hati dan kepribadian yang mulia, yang menuntun dan mengarahkan manusia menjadi mahluk berakhlak mulia tidak diutamakan. Manusia lebih mengutamakan kehormatan diri, ke-Aku-an dan cinta diri, tidak memuliakan agama dan Tuhan. Akibatnya banyak orang yang memaksakan agamanya kepada orang lain, dan menghakimi agama yang lain sebagai sesat. Bahkan ada juga yang tidak mengutamakan kemuliaan, yang menghasut dan memfitnah agama dan kepercayaan lain untuk menjadikan agamanya banyak pengikutnya.



  Agamis vs Religius

Agamis dipahami sebagai sikap perilaku manusia yang menonjol sekali (terlihat) perilakunya sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya dan dalam kehidupannya sehari-hari tergambar juga kerajinannya dalam beribadah formal.

Pada kalangan agamis, mereka menjaga benar semua perilaku, perbuatan, ucapan dan penampilan, supaya sesuai dan tidak menyimpang dari ajaran agamanya dan banyak juga yang ucapan dan penampilannya mengikuti tradisi budaya dalam agamanya, sehingga walaupun hanya sekilas saja, orang lain akan dapat melihat / mengetahui keagamaannya.

Sebagian besar kalangan agamis secara psikologis menganggap bahwa agama adalah perwujudan dari Tuhan dan perintah-perintahNya, sehingga mereka akan melakukan apa saja untuk "memuliakan" agamanya.

Tetapi sayangnya ada sebagian dari kalangan agamis ini yang hanya mengedepankan sisi formal peribadatan dan menganggap keimanan hanya terkait dengan kerajinan beribadah formal dan pemenuhan kewajiban agama yang bersifat formal. Sebagian dari mereka tidak menjaga  "kesucian"  perbuatan-perbuatan mereka karena menganggap bahwa semua perbuatan jeleknya akan dapat "ditebus" dengan "pahala" dari kerajinan beribadah dan pemenuhan kewajiban formal.


Religius dipahami sebagai sikap perilaku manusia yang tidak menonjolkan perilaku agamis dan peribadatan formal, tetapi dalam kehidupannya sehari-hari mereka memegang teguh kepercayaannya dan menjaga kesucian perbuatan sesuai dengan kepercayaan yang mereka anut.

Kalangan religius memandang bahwa agama, ibadah, kepercayaan dan juga akhlak adalah masalah hati, batin, yang semuanya tidak harus tercermin dalam peribadatan formal dan perbuatan-perbuatan yang kelihatan mata. Mereka menganggap bahwa manusia tidak dinilai hanya dari amal atau ibadahnya saja, tetapi juga dari akhlaknya. Karena itu ibadah mereka tidak harus semua tercermin dalam peribadatan dan kepercayaan formal. Ibadah mereka yang sesungguhnya ada di dalam hati.

Kalangan religius tidak mengedepankan kehidupan agamis dan peribadatan formal dan perbuatan-perbuatan agamis lain yang kelihatan mata, tetapi lebih mengutamakan untuk memegang teguh kepercayaannya dan menjaga kelurusan perbuatan-perbuatan mereka sesuai kepercayaan yang mereka anut. Walaupun juga menjalankan peribadatan
formal, tetapi mereka memiliki ‘kebijaksanaan’ sendiri mengenai keTuhanan, yaitu kehidupan kepercayaan yang didasari pada kepercayaan ketuhanan dan nilai-nilai budi pekerti yang diajarkan dalam agamanya, yang semuanya menyatu di dalam hati menjadi kepercayaan yang bersifat pribadi, yang mengisi hidup mereka dan dijalankan sepenuh hati, walaupun sikap kepercayaannya itu tidak kelihatan di mata orang lain.


Itulah cerminan dari sikap kebatinan dan perilaku manusia yang terkait dengan kehidupan berkepercayaan dan beragama.
Sebagian orang lebih cenderung mengedepankan kehidupan yang agamis.
Sebagian lagi lebih cenderung mengedepankan kehidupan yang tidak agamis, tetapi mereka religius.
Sebagian lainnya membina kehidupan yang agamis dan religius.
Sebagian lainnya tidak mementingkan urusan agama dan religi, tetapi lebih mengedepankan kepentingan keduniawiannya.
Sebagian lainnya berperilaku munafik, sok suci, sok agamis, sok religius, karena sebenarnya mereka tidak agamis dan juga tidak religius, hanya supaya kelihatan baik saja di mata orang lain.



--------------------

              www.nur-maunah.blogspot.com

 
Silakan kirimkan via email ke: hikmatul.ilmi@gmail.com untuk menyampaikan pendapat / komentar dan cerita-cerita atau pengalaman anda untuk dapat dimuat di forum ini.

Seputar Budaya Kebatinan Jawa

Seputar Budaya Kebatinan Jawa




 Kebatinan dan Mistik,  Bagian dari Budaya Jawa

Suku Jawa merupakan populasi terbesar di Indonesia, yang mungkin komposisinya mencapai 40% - 50% dari total penduduk Indonesia. Masyarakat Jawa memiliki suatu budaya dan tradisi yang tersendiri, tetapi juga menjadi bagian, dan sekaligus memperkaya kehidupan beragama masyarakatnya. Dalam sejarahnya, kehidupan masyarakat Jawa, selain memiliki pandangan dan kebijaksanaan sendiri yang tercermin dalam budaya kejawen atau ke-jawa-an, dan dicerminkan dalam berbagai aliran kepercayaan, juga diisi pengaruh dari beragam agama, Hindu, Budha, Kristen, Katolik dan Islam.
Dalam masa sekarang, populasi orang Jawa yang menjadi penganut agama Islam merupakan jumlah terbanyak. Mereka, dalam pandangan hidup kesehariannya, terbagi dalam 2 kelompok besar. Yang pertama adalah yang disebut putihan, yaitu kelompok masyarakat Jawa yang bersifat agamis, yang menjalankan aturan-aturan agama Islam yang dianutnya secara konsisten. Banyak dari mereka sejak mudanya belajar agama sebagai santri. Yang kedua adalah yang disebut abangan, yaitu bagian dari masyarakat Jawa, yang walaupun menjadi penganut Islam, mereka tidak agamis, tetapi tetap religius. Kadangkala terjadi semacam ‘konflik ideologi’, dimana kelompok putihan mencerca kelompok abangan yang dianggap tidak menjalankan agama Islam dengan benar.
Pihak abangan memandang agama Islam sebagai agama dan budaya bangsa Arab. Karena itulah mereka tidak sepenuhnya mengisi hati dan kehidupan mereka dengan “agama dan budaya Arab”  tersebut. Mereka memandang bahwa agama, ibadah, kepercayaan dan juga “akhlak” adalah masalah hati, batin, yang semuanya tidak harus tercermin dalam peribadatan yang murni Islam. Lagipula, manusia tidak dinilai hanya dari amal atau ibadahnya saja, tetapi juga dari akhlaknya. Karena itu ibadah mereka tidak harus semua tercermin seperti dalam peribadatan dan kepercayaan Islam. Ibadah mereka yang sesungguhnya ada di dalam hati. Walaupun mereka juga menjalankan peribadatan Islam, tetapi mereka juga memiliki ‘kebijaksanaan’ sendiri mengenai keTuhanan, yaitu kehidupan kepercayaan yang didasari pada nilai-nilai budi pekerti yang diajarkan oleh para leluhur, dan diwarnai kebijaksanaan ajaran para pendahulu yang tercermin dalam penghayatan tradisi-tradisi tertentu, legenda-legenda, filosofi dalam cerita pewayangan, dan sebagainya, yang semuanya menyatu di dalam hati menjadi kepercayaan dan budaya jawa, yang mengisi hidup mereka.
Kebatinan Jawa pada dasarnya adalah pemahaman dan penghayatan kepercayaan manusia Jawa terhadap Tuhan, yang kemudian diajarkan turun-temurun menjadi tradisi dan warisan budaya leluhur sejak jaman kerajaan purba, jauh sebelum hadirnya agama Hindu-Budha dan Islam di pulau Jawa. Penghayatan keTuhanan itu bukanlah agama. Agama bisa apa saja, tetapi masyarakat Jawa mempunyai penghayatan sendiri tentang Tuhan. Agama Hindu dan Budha yang telah lebih dulu masuk ke Jawa telah diterima dengan baik oleh masyarakat Jawa dan mewarnai sikap kebatinan Jawa, karena memiliki banyak kesamaan dengan spiritualisme Jawa.
Kebatinan Jawa (Kejawen) pada dasarnya adalah sebuah kepercayaan ketuhanan, bukan agama, dan kepercayaan ketuhanan kejawen itu tidak membutuhkan kitab suci, karena pendekatan mereka kepada Tuhan dilakukan secara langsung dan pribadi, dengan rasa, dengan batin, tidak mendasarkan diri pada ajaran sebuah kitab suci. Dan pengertian umum Manunggaling Kawula Lan Gusti dalam konsep kejawen adalah hubungan manusia dengan Tuhannya secara langsung dan pribadi, melalui olah rasa dan batin, manusia berusaha mengenal Tuhan dan menyatu secara langsung, tidak melalui nabi-nabi seperti halnya agama modern.
Dengan demikian terdapat perbedaan yang signifikan antara agama modern dengan ketuhanan kejawen. Penganut agama modern menggunakan ajaran-ajaran dalam kitab sucinya sebagai sumber pengetahuan mereka tentang Tuhan dan menjadi acuan peribadatan mereka. Semua keharusan dan larangan di dalam kitab suci harus dipatuhi, menjadi dasar peribadatan yang tidak boleh dilanggar. Pengenalan dan pengetahuan mereka tentang Tuhan umumnya hanyalah sebatas apa yang sudah tertulis dan diajarkan dalam kitab suci dan agama mereka saja, tidak lebih, dan tidak boleh menyimpang dari itu, yang kemudian banyak memunculkan dogma dan doktrin dan pengkultusan tentang Tuhan, tentang pahala dan dosa, surga dan neraka, sehingga menjadi umum bahwa kemudian mereka akan meninggikan agama dan kitab suci mereka, bahkan mempertuhankannya, lebih daripada mereka mempertuhankan Tuhan. Sedangkan penganut ketuhanan kejawen berusaha menyelaraskan kehidupan mereka sesuai penghayatan ketuhanan mereka masing-masing untuk mendapatkan jalan menuju Manunggaling Kawula Lan Gusti.
Ajaran-ajaran kejawen bervariasi dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Budha, Islam, atau Kristen. Perilaku ini dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang mereka terhadap perkembangan zaman. Prinsipnya, yang baik diambil, yang jelek dibuang. Penerimaan Jawa terhadap nilai-nilai yang datang dari luar diposisikan sebagai ‘baju’, isinya tetap Jawa. Agama bisa apa saja, tetapi masyarakat Jawa mempunyai penghayatan sendiri tentang Tuhan. Maka selalu ada perbedaan yang signifikan antara Hindu Jawa dan Budha Jawa dengan yang asli di India, dan Islam Jawa dengan yang asli Arab.
Budaya kebatinan Jawa, pada prakteknya, selain berisi ajaran-ajaran budi pekerti dan ketuhanan, juga diwarnai dengan ritual-ritual kepercayaan dan ritual-ritual yang berbau mistik. Selain itu juga dihasilkan produk-produk kebudayaan Jawa, yang merupakan bagian dari budaya kepercayaan Jawa, seperti keris, wayang, tari-tarian, pencak silat, aliran kebatinan, ritual selametan, ruwatan, sedekah bumi, dsb.
Kejawen atau Kejawaan (ke-jawi-an) dalam pandangan umum berisi kesenian, budaya, tradisi, ritual, sikap serta filosofi tradisional orang-orang Jawa. Kejawen juga mencerminkan spiritualitas orang Jawa. Penganut ajaran kejawen tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian formal seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku dalam upaya mendekatkan diri dan menyelaraskan hidup mereka dengan Tuhan, menjalankan “laku” untuk pencerahan cipta, budi, rasa dan karsa. Ajaran kejawen tidak terpaku pada aturan yang formal seperti dalam agama, tetapi menekankan pada konsep “keselamatan dan keberkahan hidup”.
Simbol-simbol “laku” biasanya melibatkan benda-benda yang diambil dari tradisi yang dianggap asli Jawa, seperti 'memuliakan' pusaka beserta sesajinya, pertunjukan wayang, pembacaan doa, penggunaan bunga-bunga tertentu sebagai sesaji, dan sebagainya. Akibatnya banyak orang (termasuk penghayat kejawen sendiri) dengan mudah mengasosiasikan kejawen dengan praktek klenik dan mistik.
Kejawen adalah kearifan lokal yang mengarahkan kesadaran pada kesejatian diri masing-masing manusia, pengenalan diri pada kehidupan, dan menghidupkan kembali kesejatian yang ada dalam diri manusia. Kejawen adalah budaya kebatinan dan spiritualitas berkenaan dengan keTuhanan dan budi pekerti. Agama bisa apa saja menurut keyakinan iman masing masing. Tetapi budi pekerti selayaknya menjadi acuan perilaku orang jawa, jangan ditinggalkan. Jangan sampai orangnya beragama dan agamis, tapi perilakunya tidak berbudi pekerti, jauh dari perilaku mulia, apalagi berakhlak mulia. Jangan menjadi orang jawa yang hilang jawa-nya.
Secara kebatinan dan spiritual, mereka percaya bahwa kehidupan manusia di alam ini hanyalah sementara, yang pada akhirnya nanti akan kembali lagi kepada Sang Pencipta.  Manusia, bila hanya sendiri dan dengan kekuatannya sendiri, adalah bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, lemah dan fana. Karena itulah manusia harus menyelaraskan diri dengan kekuatan dan kekuasaan yang lebih tinggi (roh-roh dan Tuhan), beradaptasi dengan lingkungan alam yang merupakan rahmat dari Tuhan dan memeliharanya, bukan melawannya, apalagi merusaknya. Kepercayaan kepada roh-roh dan Tuhan ini seringkali dikonotasikan sebagai kepercayaan animisme dan dinamisme, yang kontras dengan ajaran agama.
Mereka terbiasa hidup sederhana dan apapun yang mereka miliki akan mereka syukuri sebagai karunia Allah. Mereka percaya adanya 'berkah' dari roh-roh, alam dan Tuhan, dan mereka percaya bahwa kehidupan mereka akan lebih baik bila mereka 'keberkahan'.  Karena itu dalam budaya Jawa dikenal adanya upaya untuk selalu menjaga perilaku, kebersihan hati dan batin dan laku-laku prihatin dan tirakat dan berbagai ritual untuk menjaga supaya hidup mereka selalu diberkahi, seperti ritual Puasa Mutih, Puasa Senin-Kamis, Puasa Weton, ritual Sedekah Bumi, Selametan, Syukuran, Ruwatan, ziarah ke makam keluarga dan leluhur, "memuliakan" pusaka yang dimiliki, memberi sesaji kepada roh-roh tertentu di sekitar rumah tinggal, dsb, yang terkesan pada masa sekarang sebagai perilaku mistik dan klenik.
Berbagai perbedaan inilah yang menyebabkan kaum putihan mencela kaum abangan sebagai penganut kepercayaan yang sesat, penuh mitos dan mistik, dan politheis. Tetapi di sisi lain, pihak putihan juga tidak konsisten dengan kemurnian agama mereka, karena mereka juga ikut meramaikan ritual-ritual pihak abangan, seperti acara Gerebek Maulud dan Sekatenan, Kirab Pusaka, Selametan, Syukuran, Sedekah Bumi, ziarah kubur, dsb. Sebagian dari mereka juga menjalani kebatinan, keilmuan dan laku prihatin, yang kemudian diajarkan dan diadaptasikan menyatu menjadi ajaran budaya Islam, yang aslinya tidak ada dalam budaya Islam Arab.


 Budaya Kebatinan melandasi perbuatan yang bermoral.

Dalam budaya kejawen, kebijaksanaan kebatinan menyebabkan perilaku manusia jawa tidak melulu mengejar kekayaan dan kebendaan dalam hidupnya. Mereka lebih mengejar ketentraman hidup, rasa cukup dan mensyukuri hidup, hubungan sosial yang harmonis dan membangun aspek spiritualitas dalam diri. Keseimbangan, keselarasan, keharmonisan.
Secara mistis, kebatinan dan spiritual, dipahami bahwa kehidupan manusia di alam ini hanyalah sementara, yang pada akhirnya nanti akan kembali lagi kepada Sang Pencipta. Manusia, bila hanya sendiri, adalah bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, lemah dan fana. Karena itulah manusia harus bersandar kepada kekuatan dan kekuasaan yang lebih tinggi (roh-roh dan Tuhan), beradaptasi dengan lingkungan alam yang menjadi rahmat Tuhan bagi mereka dan memeliharanya, bukan melawannya, apalagi merusaknya. Lebih baik untuk menjaga sikap dan tidak membuat masalah. Memiliki sedikit lebih baik, daripada berambisi mencari ‘lebih’. Sehingga idealisme kebatinan menuntun manusia pada sikap menerima, sabar, rendah hati, sikap tahu diri dan kesederhanaan, sifat-sifat luhur yang harus dimiliki oleh manusia dalam hidupnya. Idealisme inilah yang menjadikan manusia hidup tenteram dan penuh syukur kepada Tuhan.
Kontras sekali dengan perilaku dan motivasi manusia sekarang, yang walaupun tetap tekun beribadah formal, tetapi penuh ambisi dan hidupnya melulu dipenuhi hasrat kebendaan, kesenangan dan kemewahan, yang menjadikan manusia jauh dari rasa cukup dan bersyukur dan seringkali menyebabkan manusia melakukan perbuatan-perbuatan tercela untuk memenuhi keinginan-keinginannya.
Orang Jawa yang memegang teguh penghayatan kearifan kejawen, apapun agama yang mereka anut, di dalam kehidupannya sehari-hari akan selalu mengedepankan sikap arif bijaksana, perilaku yang berbudi pekerti dan keharmonisan hubungan dengan semua mahluk. Sedapat mungkin akan dihindarinya perilaku yang fanatis agamis, tetapi dalam perbuatan-perbuatannya tidak mencerminkan manusia yang berbudi pekerti dan berakhlak mulia.



 Degradasi Budaya Kebatinan Jawa.


Manusia Jawa di dalam kehidupan kejawaannya sehari-hari sejak dulu sampai sekarang sudah terbiasa untuk menerima dan beradaptasi dengan budaya-budaya / pandangan / pemikiran-pemikiran baru. Sebagian besar, sikap adaptif tersebut berguna untuk menambah khasanah kebudayaan jawa dan wawasan berpikir masyarakat dalam menjalani kehidupan yang selalu penuh perubahan mengarah pada kehidupan modern. Di sisi lain, sikap adaptif tersebut membuat kecenderungan bagi para anak muda dan generasi berikutnya untuk meninggalkan cara hidup lama kepada model kehidupan yang baru. Sedikit demi sedikit, tetapi pasti, simbol-simbol budaya jawa mulai ditinggalkan, digantikan dengan simbol-simbol budaya yang baru. Tontonan wayang sudah mulai berkurang peminatnya, digantikan tontonan film dan sinetron. Kehidupan religius sudah mulai berganti menjadi kehidupan agamis dan fanatis. Kehidupan harmonis dan saling menghormati di masyarakat mulai berganti menjadi kehidupan individualis dan kelompok-kelompok agamis, yang sebagiannya berseteru dan menghakimi kelompok yang lain.

Bangsa ini sekarang terhimpit secara multi-dimensi oleh kebudayaan asing, Arab, Amerika, Eropa, Jepang, Cina, dst. Dengan halus tapi mengena, mass media, secara langsung maupun tidak langsung, telah digunakan untuk membunuh karakter budaya Jawa dan meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama) dan budaya barat (lewat film dan teknologi).  Hal-hal yang berbau mistik dan keris sering dikonotasikan sebagai hal negatif.  Hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian disimbolkan dengan pakaian putih keagamaan dari Timur Tengah / Arab. Kebatinan jawa dikonotasikan negatif, digantikan keilmuan agamis yang dianggap halal. Barang-barang konsumtif dan yang berteknologi modern juga membanjiri pasar.

Kepribadian masyarakat Indonesia saat ini sedang keruh, menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat dan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum agamis, antara modernitas dan kekolotan agama. Uang dan fanatisme agama mempercepat krisis kebudayaan Jawa dan Indonesia pada umumnya. Hidup beragama pun terkesan jauh dari nalar bijak, jauh dari cerdas, dan banyak yang memberi kesan hanya mengejar formalitas kewajiban agama saja. Dualisme kepribadian terlihat kontras. Di satu sisi sangat agamis, penuh slogan moral dan iman, di sisi lain penuh kekerasan, kriminalitas tetap banyak terjadi, sinetron dan film-film manusia berbusana minim juga tetap disukai.

Tanpa harus meniru / menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam yang modern (center of excellence) bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Italia, Eropa dan Amerika. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya dan kearifan lokal. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya agama secara membabi-buta hanya akan mengakibatkan kemunduran jati diri bangsa. Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama supaya tetap terjaga perilaku yang selaras dengan keluhuran budi bangsa.


------------------------


            www.nur-maunah.blogspot.com


Silakan kirimkan via email ke: hikmatul.ilmi@gmail.com untuk menyampaikan pendapat / komentar dan cerita-cerita atau pengalaman anda untuk dapat dimuat di forum ini.